Saturday, November 24, 2018

Kuliah Maulid: PMII Kutim Peringati Maulid Nabi Muhammad SAW. 1440 H

Kuliah Maulid: PMII Kutim Peringati Maulid Nabi Muhammad SAW. 1440 H

pmiikutim.or.id ,- Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Kutai Timur memperingati Kelahiran Nabi Muhammad SAW. 1440 H dengan mengadakan Kuliah Maulid yang diikuti oleh seluruh kader dan anggota PMII di Sekretariat PMII Cabang Kutai Timur (22/11/18).

Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. ini mengangkat tema “Berkaca Pada Nabi SAW. Ditengah Dekadensi Ahlak Umat Akhir Zaman”. Kegiatan ini dibuka dengan pembacaan Sholawat yang dipimpin oleh Laskar Sholawat PMII Kutim dan dilanjutkan dengan kuliah maulid yang disampaikan oleh jajaran Alumni PMII, diantaranya Muchtar, M.Pd , Ali Basuki, S.Pd.I , Imam Hanafi, MA , Imam Syafi'i, M.Pd dan Haryono, M.Si.

Selain untuk memperingati Kelahiran Nabi Muhammad SAW, kegiatan ini juga bertujuan memberikan pelajaran agar kader dan anggota PMII dapat mengikuti jejak Rasulullah yang pantang menyerah dan selalu optimis menghadapi dunia yang semakin modern.

“Harapannya kader dan anggota milenial PMII dapat mengikuti jejak Rasulullah yang pantang menyerah dan selalu optimis menghadapi dunia yang semakin modern”. Tutur Abdul Manab selaku Ketua PMII Kutai Timur. (Alf)

Friday, November 16, 2018

KOPRI Lintas Rayon Se-Kutim Diskusikan Gerakan Perempuan PMII

KOPRI Lintas Rayon Se-Kutim Diskusikan Gerakan Perempuan PMII



pmiikutim.or.id,- Korps PMII Putri (KOPRI) lintas Rayon  di STAI Sangatta Kutai Timur melaksanakan diskusi bersama yang melibatkan lima pengurus KOPRI Rayon, diantaranya Rayon PGMI (Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyyah), Rayon MPI (Menejemen Pendidikan Islam), Rayon PAI (Pendidikan Agama Islam), Rayon Beriun EKIS (Beriun Ekonomi Syariah) dan Rayon AS (Ahwalu Syakhsiyah)  yang berlansung pada Rabu sore di  Lamin Adat Bukit Pelangi (14/11/2018).

Ketua KOPRI Rayon Beriun EKIS, Suci Indah Sari menerangkan diskusi ini merupakan program kerja sama antara KOPRI Beriun EKIS, KOPRI Rayon AS dan KOPRI Rayon PGMI. “jadi acara kemarin itu termasuk dalam proker (program kerja) KOPRI Rayon Beriun EKIS yang bekerja sama dengan KOPRI Rayon AS dan KOPRI rayon PGMI” jelasnya.

Tuesday, November 13, 2018

"Ngusik Bareng" , Kajian Asik ala Rayon MPI

"Ngusik Bareng" , Kajian Asik ala Rayon MPI


pmiikutim.or.id,- Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Menejemen Pendidikan Islam (MPI) STAIS Kutai Timur, mengadakan kegiatan “Ngusik Bareng MPI” pada hari Minggu (11/11/18) di Sekretariat PMII Kutai Timur.

Agenda tersebut merupakan program kerja rayon bidang kaderisasi yang bersifat berkelanjutan. Pertemuan yang digelar disekretariat PMII tersebut merupakan kelanjutan dari pertemuan pertama yang seminggu sebelumnya diadakan di Lamin Adat Bukit Pelagi.

Meski dilaksanakaan oleh rayon MPI, kegiatan ini tidak hanya diperutukkan untuk anggota rayon MPI, namun anggota rayon lainpun juga bisa ikut andil dalam kegiatan tersebut.
Andri Winarto selaku sekretaris panitia kegiatan mengungkapkan “Kegiatan ini diperuntukkan untuk anggota rayon MPI tetapi disisi  lain tidak menutup kesempatan untuk sahabat/sahabati dari rayon lain untuk andil dalam diskusi bersama MPI” ,tutur mahasiswa semester lima tersebut.

Selain mendapat ilmu yang bermanfaat, kegiatan ini bertujuan untuk melatih peserta agar berani dan bisa berbicara di depan umum. “Tujuan kegiatan ini yaitu selain untuk mendapat ilmu yang bermanfaat, kegiatan ini juga bertujuan untuk melatih public speaking para peserta diskusi agar bisa dan berani berbicara di depan umum sehingga para peserta tidak canggung dalam mengikuti diskusi-diskusi di forum yang lebih besar”, tambahnya.

Mengangkat tema-tema seputar Manajemen Pendidikan Islam, Rayon yang dipimpin oleh Ahmad Malinto tersebut menghadirkan Muchtar, M.Pd selaku instruktur tetap kegiatan yang akan berlansung sebanyak empat sesi pertemuan ini. Selain sebagai ketua Majelis Pembina Cabang PMII Kutai Timur, instruktur dikenal sebagai akademisi dibidang pendidikan Islam yang kompeten untuk mengarahkan peserta ketujuan kegiatan.

Untuk menarik minat sahabat-sahabati agar mau ikut andil dalam diskusi ini, maka pihak panitia membuat strategi dengan mengundang ketua-ketua rayon dan melakukan promosi melalui media sosial. “Untuk menarik minat sahabat-sahabati agar mau ikut andil dalam diskusi ini, maka pihak panitia membuat strategi yaitu dengan memiliki antusias untuk kemudian mengundang ketua rayon untuk memberikan perwakilan dari anggotanya untuk mengikuti tersebut dan pihak panitia juga melakukan promosi melalui media sosial”, terangnya. (Alf)

Asal Usul Penindasan Perempuan

Asal Usul Penindasan Perempuan

pmiikutim.or.id,-Pada sejarahnya Morgan telah membedah sejarah perkembangan masyarakatnya, yaitu terdapat 3 babak zaman; zaman kebuasan, zaman kebiadaban (barbar), dan zaman peradaban. Morgan mengidentifikasikan pada setiap babak zaman penekanannya terhadap alat produksi yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang paling pokok manusia, yaitu "pangan".

Morgan sebagai antropolog yang diamini oleh Engels terhadap penelitiannya dengan diterbitkannya buku "Asal Usul Keluarga, Negara, dan Kepemilikan Pribadi", kalau kita bedah ke 3 babak zaman tersebut pembeda pada zaman kebuasan dan barbar adalah seperti perkembangan zaman komunal primitif ke zaman perbudakan menurut sejarah perkembangan masyarakat - Karl Marx.

Pada zaman kebuasan yang kita ketahui mulai dari manusia yang tidak mempunyai alat produksi sampai pada tahap menemukan alat produksi yang sederhana yaitu tombak dan panah untuk kebutuhan dalam aktivitas produksinya (mencari pangan) terlihat tidak ada perbedaan pembagian kerja pada kaum laki-laki maupun perempuan, 

Kemudian zaman berganti karena faktor alam yaitu diluar kendali manusia itu sendiri yaitu zaman es mencair. Banyak makhluk hidup yang mengalami seleksi alam, maka kehidupan pun mulai barbar, banyak terjadi penguasaan manusia atas daerah yang mereka tempati karena tempat tinggal mereka sudah tak seleluasa dulu, penguasaan manusia antar manusia tak terelakan demi memenuhi kebutuhan sehari-hari, alat produksi pun ikut berubah seiring dengan perkembangan zaman dan kreatifitas manusia itu sendiri, yaitu dengan ditemukannua tembikar dan per-api-an yang dibuktikan dengan kehidupan manusia yang lebih banyak tinggal di pinggir sungai.

Tetapi ada yang perlu diketahui yaitu pada zaman barbar tahap tengah, ketika beternak sebagai pengganti alat produksi demi kehidupan sehari-harinya, terjadi PENDOMESTIKAN yaitu pembagian kerja pada kaum laki-laki dan perempuan.

Biasanya perempuan dan laki-laki sama-sama terlibat langsung dalam aktivitas produksinya, pada babak ini terdapat pembagian kerja; yaitu laki-laki yang terlibat langsung dengan aktivitas produksinya (bertemu langsung dengan alat produksi) sedangkan perempuan mengerjakan hal yang bersifat domestik (menyiapkan masakan untuk laki-laki di rumah, merawat anak, dan lain lain). 
Pada saat inilah terbentuknya keluarga inti yang muncul dan terwariskan hingga kini  yaitu; ayah, ibu dan anak. 

Beriringan dengan terbentuknya keluarga dan pedomestikasian terbentuklah budaya patriarki yang kita kenal sampai hari ini,  karena pada awalnya ketergantungan kaum perempuan pada laki-laki atas basis perekonomiannya hingga merembet kepada basis budaya serta politik.

Sampai pada titik akhir di zaman barbar manusia telah mengenal nilai surplus dan kepemilikan pribadi sehingga membutuhkan pasar untuk restribusi dan menghasilkan keuntungan dan mengembalikan modal mereka. Pada zaman peradaban pun penindasan perempuan semakin tak terelakan dengan masuknya tatanan kehidupan dan corak produksi yang sudah berbeda yang semakin maju Negara pun turut hadir untuk mengamankan surplus yang ada. 

Perempuan semakin bergantung terhadap kaum laki-laki, karena kebutuhan ekonominya hanya bisa dipenuhi atas laki-laki yaitu efek sudah terbiasa untuk tidak melakukan aktivitas produksi seperti dahulu; sehingga ada stigma perempuan itu lemah, tidak percaya diri untuk tampil dalam hal layak publik (minder).

Tak kalah massivnya sistem Imperialisme-Kapitalisme memanfaatkan budaya patriarki untuk menjadikan perempuan sebagai komoditas dari mulai kepala sampai kakinya. Maka dari itu perjuangan perempuan adalah perjuangan kebudayaan melawan budaya patriarki, dan pembebasan nasional dari belenggu Imperialisme-Kapitalisme, dapat saya katakan disini bahwa penindasan kaum perempuan berarti berlipat ganda.

Perempuan harus kembali melakukan aktivitas produksinya dengan merebut alat produksi dengan arti pembebasan nasional, ataupun pekerjaan domestiknya menjadi sebuah hal yang diperhitungkan sebagai aktivitas produksi karena hari ini negara menganggap pekerjaan domestik sebagai hal yang remeh dan tidak perlu diperhitungkan sehingga menjadi celah untuk Imperialisme-Kapitalisme untuk mengambil surplus kembali..

Perempuan bersama laki-laki turut melaksanakan pembebasan nasional dengan watak yang demokratis untuk menghancurkan budaya patriarki yang terus menggerogoti kebebasan kaum perempuan, karena menurut Lenin "syarat dari revolusi adalah pembebasan perempuan". 
Wallahualam.

Ditulis Oleh Siti Saijah, Anggota PMII Rayon Beriun EKIS angkatan 2018.

Friday, October 26, 2018

PMII Kutai Timur Gelar Tabligh Hari Santri

PMII Kutai Timur Gelar Tabligh Hari Santri




pmiikutim.or.id,-Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Kutai Timur memperingati Hari Santri Nasional dengan mengadakan Tabligh Hari Santri yang diikuti oleh masyarakat Sangatta dan anggota PMII Kamis (25/10/2018) di Masjid Ar-Rohiim Sangatta.

PMII yang merupakan bagian dari elemen santri berpenggang teguh pada ajaran islam Ahlussunnah Wal-Jama'ah tentu punya tanggung jawab moral untuk memeriahkan peringatan Hari Santri Nasional. Dalam kegiatan Tabligh Hari Santri tersebut, PMII Kutim mengangkat Tema “Pentingnya peran santri diera globalisasi dalam membentuk generasi Ulul Albab”.

Kegiatan peringatan Hari Santri yang diketuai oleh Sahabat Gustian ini sukses terlaksana dengan diawali pembacaan Shalawat dipimpin oleh Laskar Sholawat PMII Kutim dan dilanjutkan dengan tabligh akbar yang disampaikan KH. Sobirin Bagus, MM, Alumni PMII yang merupakan Mantan Ketua MUI Kutai Timur .

Friday, October 12, 2018

Elemen Cipayung Plus (PMII, GMNI, HMI, BEM)  Rayakan HUT Kutim Ke-19 dengan Aksi Perlawanan

Elemen Cipayung Plus (PMII, GMNI, HMI, BEM) Rayakan HUT Kutim Ke-19 dengan Aksi Perlawanan



pmiikutim.or.id,- Jum’at, 12 Oktober 2018 bukan hari yang biasa bagi warga Kutai Timur. Tepat 19 tahun lalu, kabupaten yang terkenal dengan emas hitamnya ini resmi menjadi satu daerah otonom dari sekian banyak daerah lainnya diseluruh  Indonesia pasca kejatuhan Orde Baru dibawah pimpinan soeharto.

Riuh sambutan atas hari lahir tersebut, begitu meriah diperingati setiap tahunnya di Ibu Kota Kabupaten ini, Sangatta. Ini bisa terlihat juga pada beberapa hari terakhir ini.  Tak ayal berbagai event digelar oleh pemerintah Kabupaten, mulai dari jalan santai dihiasi dengan bagi-bagi hadiah, gelaran panggung-pagung bernyanyi dengan artis-artis ternama, sampai pada pamer-pamer keberhasilan pembangunan oleh perangkat-perangkat daerah. Sangat meriah.

Namun, ada yang berbeda pada peringatan hari lahir Kutai Timur  yang ke-19 kali ini. Tak mau ketinggalan, elemen Mahasiswa yang menjadi tumpuan harapan masa depan Kutai Timur bergerak membuat perayaanya sendiri. Dibawah bendera yang berbeda-beda seperti, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dibawah pimpinan Abdul Manab, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) pimpinan Khaerudin, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) pimpinan Nasir Alimudin, BEM STAIS , BEM STIPER, BEM STIE Nusantara dan Lingkar Studi Kerakyatan (LSK) serta elemen mahasiswa lainnya,  bersatu membentuk gerakan tandingan memperingati hari lahir Kutai Timur dengan Aksi Long March.

Monday, October 8, 2018