PMII Kembali Sholat

Merenungi Keadaan dan Kembali ke Tujuan Organisasi

Pentingnya Pendidikan Politik Sejak Dini

Contoh Kegiatan Politik Yang Tidak Mendidik

PMII Kutai Timur Gelar Konfercab

Konfercab PMII Cabang Kutai Timur

Sosok Kartini Masa Kini Telah Pergi

Sosok Inspirasi Pemudi Masa Kini

Noda Hitam Pesta Demokrasi

Pesta Lima Tahunan Yang Harus Dikawal Bersama

Evaluasi, Ini Catatan Rayon Beriun EKIS



pmiikutim.or.id,- Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Beriun Ekonomi Syariah (BERIUN EKIS) STAIS Kutai Timur, melaksanakan rapat evaluasi pada hari Sabtu, 23 Februari 2018 di kediaman Sekretaris Rayon yaitu Sahabat Alof.
Pertemuan ini bertujuan untuk menjalin dan mempererat kembali antar pengurus Rayon Beriun EKIS yang semakin renggang dikarenakan kesibukan masing-masing pengurus.  Selain itu, dibahas pula arti nama “Beriun” yang menjadi ciri khas Rayon Ekonomi Syariah dan membahas mengenai kekurangan dan kelebihan kepengurusan selama 1 tahun terakhir agar dapat menjadi pelajaran untuk para pengurus selanjutnya.
Pada rapat  ini dihadiri para pengurus Rayon dan dipimpin oleh Sahabat Abdul Rahman yang merupakan Ketua dan didampingi Sahabat Alof sebagai Sekretaris Rayon Beriun EKIS. Rapat ini dimulai dengan presentasi kinerja dari kepengurusan selama satu periode dan dilanjutkan ngobrol santai antar sesama pengurus.
Melalui presentasinya, Ketua Rayon berharap bahwa kepengurusan selanjutnya lebih baik dari kepengurusan yang sekarang, dapat melaksanakan kegiatan-kegiatan yang belum terlaksana dan bertanggung jawab serta amanah atas kepercayaan yang telah diberikan. Para pengurus juga dihimbau untuk mengetahui dan memahami mengenai program kerja yang telah dilakasakan sebagai bentuk keaktifan dalam melaksanakan tanggung jawabnya.
Suatu kebanggaan tersendiri bagi para Pengurus Rayon Beriun EKIS periode 2017/2018 yang telah selangkah lebih maju dari kepengurusan yang sebelumnya. Sebelum rapat diakhiri, ada satu pesan penting yang disampaikan oleh Ketua Rayon Beriun EKIS yaitu sahabat/i boleh tidak  terlalu aktif dipengurusan ini,  tapi jangan sampai lupa dan menjauh dari kepengurusan Rayon Beriun EKIS. Salam Pergerakan! (Alf)

Sidang Empat Hari, Hajrah Pimpin PMII Kutim 2019-2020




pmiikutim.or.id,-  Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Kutai Timur sukses melaksanakan hajat rutinan  dalam rangka meregenerasi kepengurusan, atau biasa disebut Konferensi Cabang (KONFERCAB) yang ke-V. Acara tersebut dilaksanakan di Kampus Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Sangatta pada tanggal 14-17 Februari 2019.
Dalam rangka membuka kegiatan tersebut PMII Kutai Timur terlebih dahulu mengadakan Seminar Nasional dan sarasehan dengan mendatangkan Penulis buku Islam Nusantara dan sekaligus Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, yaitu K.H Ahmad Baso selaku pembicara.
Seminar Nasional dilaksanakan di Gedung Meranti Kantor Bupati Kutai Timur yang terbuka untuk umum ini megusung Tema “Eksistensi Islam Nusantara Melawan Gerakan Ghazwul Fikri” dan malam harinya dilanjutkan Sarasehan bertempat di Masjid At-Taibin dengan mengangkat tema “Peran PMII dalam Memperkuat Ideologi Aswaja”.
Sedangkang agenda persidangan Konfercab dimulai pada tanggal 15 Februari dengan dipimpin oleh Hariono (Presidium),  yang didampingi  Rafiko (Wakil Presidium) dan Hajrah (Sekretaris Presidium). Persidangan ini dihadiri oleh peserta penuh dan penijau dari masing-masing delegasi lintas Rayon dan Komisariat.
Dalam Konfercab kali ini terpilih Sahabati Hajrah menjadi Ketua Umum dan Sahabati Triyani Prihatinah sebagai Ketua Kopri PMII Cabang Kutai Timur masa khidmat 2019-2020.



Perdana, PMII Kutim Gagas “Kelas Ideologis Aswaja”



pmiikutim.or.id,-Minggu, (24/1) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Kutai Timur sukses menggelar pertemuan perdana Kelas Idelogis Aswaja di Masjid Al-Amanah Sangatta Utara, Kutai Timur.

Kelas Ideologis Aswaja ini dihadiri semua Pengurus maupun anggota PMII Kutai Timur dari tingkatan Cabang sampai Rayon. Kelas Ideologis ini bertujuan untuk memperkuat basic pengetahuan kader PMII Kutim dalam pergulatan Islam Ahlussunah  Wal Jama’ah dan menjadi benteng dari derasnya doktrin paham keagamaan yang konserpativ dan cenderung radikal belakangan ini.

Kegiatan ini akan berlangsung sebanyak 6 kali pertemuan dengan berbagai tema yang mengupas Ahlussunah Wal Jama’ah dari Tradisi Ubudiyah sampai aplikasi Muamalah. Pertemuan perdana telah tuntas mengupas sejarah kemunculan aliran pemikiran Islam, selanjutnya kelas ini akan membahas aspek peradaban Islam mulai kejayaan sampai keruntuhannya pada era renaissance Eropa. Selain itu anggota PMII juga akan mencoba menkaji berbagai fenomena ekosospol prespektif Aswaja.

PMII yang merupakan salah satu organisasi ke Islaman terbesar di Indonesia diharap terus konsisten dalam  melakukan kaderisasi dan penanaman manhaj Ahlussunnah Wal Jama’ah sebagai bentuk tanggung jawab besar dalam menangkal gerakan Islam transnasional, mulai dari yang mudah membid’ahkan, mengkafirkan, sampai ingin mengganti sistem Negara ini menjadi khilafah. "Bahwasanya kader pergerakan harus bisa menjadi benteng pertahanan NKRI dari faham-faham yang mudah membid’ahkan dan  megkafirkan," ujar Andre Ketua Panitia Kelas Ideologis.

Mahfud Ifendi dalam materinya yang berjudul “Sejarah Pemikiran Teologi Islam dan Aliran Pemikiran Dalam Teologi Islam” menjelaskan berbagai latarbelakang munculnya berbagai aliran keagamaan sejak wafatnya Rasulullah SAW sampai sekarang. Aliran-aliran keagaamaan yang jadi bahan diskursus dalam pertemuan pertama tersebut diantaranya faham Syiah, Khawarij, Murjiah, Mu’tazilah, Jabariyah, Qadariyah, Karamiyah, Hululiyah, Wahabiyah dan Ahlusunnah Wal Jamaah.

Sebagai organisasi mahasiswa keislaman yang lahir dari Rahim Nahdlatul Ulama, PMII dituntut untuk mengambil peran dalam merawat eksistensi Islam ramah diIndonesia. “PMII harus mampu meradaptasi dari berbagai faham radikal yang hari ini mulai tumbuh subur di bangsa ini," katanya. (Iws)



Sekolah Aswaja, PMII Komisariat STAIS Dalami Manhaj Al Fikr


pmiikutim.or.id,- Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) memaknai Ahlussunnah wal Jama’ah(Aswaja) sebagai dasar atau metode berfikir (Manhaj Al Fikr) yang digariskan Sahabat Nabi dan pengikutnya. Sebagai langkah awal untuk memahami makna Ahlussunnah wal Jama’ah tersebut, PMII Komisariat STAI Sangatta Kutai Timur mengadakan Sekolah Aswaja dengan mengusung tema “Membumisasikan Aswaja di Bumi Nusantara”. Kegiatan tersebut dikuti anggota lintas rayon yang berlangsung pada hari minggu, 20 Januari 2019 di lantai 2 Masjid Islamic Center Sangatta.

Tujuan yang ingin dicapai dengan terselenggaranya kegiatan ini. agar anggota PMII mampu memahami sejarah  perkembangan dan keterkaitan Aswaja dengan PMII, hingga konsep Islam Rahmatan lil Alamin yang diyakini PMII. “Sebagai warga pergerakan yang baik, kita harus mengetahui sejarah Aswaja yang menjadi dasar ideologi pergerakan kita” ucap Ketua Panitia, Daimurrahma Utami.

Dalam kegiatan ini panitia menghadirkan narasumber yang kompeten dibidangnya antara lain Bapak H. Abdurrahim Yunus, DE.A, Bapak Imam Syafi’i, M.Pd dan Bapak Sismanto, S.Pd. M.KPd. Seusai memaparkan materi , acara dilancutkan dengan sesi diskusi. Salah satu pertanyaan yang muncul dalam forum tersebut mengenai pengikut Islam kaku bahkan sampai garis keras.

Menurut Narasumber, corak Islam yang keras dan kaku bukanlah identitas Islam yang dianut PMII. Orang Indonesia yang berislam tidak perlu memaksakan diri harus berjenggot dan bercelana cingkrang. Karena Islam bukanlah Arab dan begitupula sebaliknya.


Dengan berlangsungnya kegiatan ini, para peserta diharapkan lebih paham dengan manhaj PMII dan mampu mengaplikasikan ilmu yang telah didapat dalam kehidupan sehari-hari khususnya dalam berorganisasi.(Alf)



KOPRI PMII Kutim Sambut Meriah Harlah Ke-51


pmiikutim.or.id,-Peringatan Hari Lahir ke-51 KOPRI yang digelar di Kutai Timur berlangsung dengan meriah.  Dengan mengusung tema “Menciptakan Perempuan yang Akademis dan Berjiwa Nasionalis” panitia bermaksud mendorong partisipasi perempuan untuk tampil sebagai pelopor keilmuan yang cinta tanah air. Pasalnya perempuan bukan hanya bisa  mengerjakan pekerjaan dirumah tapi mampu membela negara agar tidak selalu tertindas dari kaum laki-laki seperti  yang populer didengar. Perempuan harus berani, terus bergerak dan bangkit mulai dari sekarang.

Peringatan Harlah KOPRI yang berlansung pada 24-25 November 2018 yang diselenggarakan di Aula SD Negeri 011 Sangatta Utara ditujukan untuk membuktikan bahwa kopri  adalah pelopor gerakan progresif keperempuanan. Dengan diadakan acara ini, KOPRI diharapkan menjadi tauladan gerakan perempuan yang edukatif bagi  perempuan.

Menyambut usianya yang mencapai setengah abad, KOPRI PMII Kutai Timur menyelenggarakan berbagai macam perlombaan mulai dari lomba Orasi, Presentasi Essay hingga Menghias Tumpeng. Sebagai penutup kegiatan ini ditutup dengan Dialog Keperempuanan yang menghadirkan narasumber perempuan antara lain Sahabati  Zulfatun Mahmuda selaku peneliti senior di PT KPC, Sahabati  Ulfa Jamilatul Farida, M.S.I selaku Komisioner KPU Kutai Timur, Sahabati Tirah selaku aktivis perempuan dibidang advokasi dan Sahabat Randi Muhammad Gumilang sebagai pembanding dari kalangan Akademisi.
 Dalam paparannya, para narasumber mendorong perempuan agar produktif dan inovatif meskipun berada dibawah tekanan superioritas kaum Adam. “Bahkan dilingkup organisasi pun, peran perempuan sangat penting untuk mengaktifkan organisasi” tutur Zulfatun Mahmudah.

Acara ini berlangsung sangat meriah dan sesuai harapan.  Terlihat jajaran kepengurusan Rayon, Komisariat, Cabang dan IKA PMII  Kutai Timur turut hadir dan berpartisipasi dalam memeriahkan acara ini.(Alf)



Belajar Pendidikan Yang Memanusiakan Di Rayon PAI



pmiikutim.or.id-,Menurut Paulo Freire Pendidikan haruslah yang membebaskan. Inilah topik  yang diangkat oleh sahabat Dayu Irwan dalam kajian Publik Speaking Rayon PAI. Kegiatan tersebut dilaksanakan disekretariat KOPRI di Jln. Hidayatullah Gg. Hikmah A. Pada sore hari senin,26 Desember 2018. Kegiatan rutinan ini berjalan lancar dan sukses , dihadiri oleh anggota lintas rayon, dimulai pada pukul 15.30 wita sampai pukul 18.00 wita.

Mengilhami pesan orang bijak, Logika tanpa logistik akan macet seperti persimpangang lampu merah Jakarta. Oleh karenanya sebelum acara dimulai fasiliator kegiatan memastikan asupan gizi sebagai bahan jamuan berupa sirup mangga yang menyejukan siap memanjakan audienct. Pembukaan dimulai dengan prolog oleh moderator sahabat Nuktah. “Paolu Fereire adalah pelopor pemikir pendidikan yang memanusiakan manusia”, kalimat singkat pengantar dari Sang pemandu.

Sebagai Pemateri, Irwan menegaskan”Pendidikan membebaskan menurut Paulo lebih menekankan pada kesadaran manusia itu sendiri dalam berfikir dan sejauh mana usaha untuk terus menggali pengetahuan, dan tingkah laku seperti pendidikan akhlaq harus diterapkan sebagai penunjang pembelajaran” tukasnya dengan penuh keyakinan.

selepas  menjelaskan subtansi yang terkandung dalam teori Paulo Freire, sang moderator mempersilakan kepada audient untuk bertanya, dan menanggapinya.
“Pendidikan yang membebaskan adalah suatu pendidikan yang tidak membatasi peserta didik untuk belajar, baik dalam segi sarana dan prasarana, guru, tempat maupun sumber ilmu pengetahuan itu sendiri, layaknya sebagai mahasiswa, kita mengikuti organisasi, kita tidak membatasi untuk belajar bersama organisasi yang lainnya” tutur Dudung, selaku audient Public Speaking.

Pendidikan dari zaman purbakaladisadari sebagai  hal yang subtantif dalam kehidupan manusia. Khazanah pemikirian Paulo adalah sepenggal pengetahuan yang memeperkaya khazanah tersebut.Bagi PMII, kader mengemban tanggungjawab mengkaji suatu khazanah keilmuwan, baik seiring dengan perkembangan zaman, sehingga pendidikan adalah satu-satunya benteng pertahanan untuk memastikan bahwa manusia tetaplah memanusiakan. (Mgh)

SUNTIK II, Wadah Pembelajaran Jurnalistik Anggota PMII Kutai Timur




pmiikutim.or.id,-Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Menejemen Pendidikan Islam (MPI) dan Komisariat STAIS, bekerjasama mengadakan kegiatan Sekolah Jurnalistik Ke-II (SUNTIK II) pada hari Sabtu-Minggu (23-24/12/2018) di Gedung DPD KNPI Kutai Timur.

Kegiatan ini mengambil perwakilan peserta dari delegasi masing-masing Rayon diantaranya Rayon Pendidikan Agama Islam (PAI), Rayon Menejemen Pendidikan Islam (MPI), Rayon Akhwalus Syakhsiyyah (AS) dan Rayon Beriun Ekonimi Syariah (Beriun EKIS).

Sekolah Jurnalistik ini sebelumnya sudah pernah dilaksanakan 2016 lalu. Selain itu kegiatan ini diharapkan menyediakan wadah kader PMII KUTIM untuk belajar dunia jurnalistik sehingga mampu mengembangkannya ilmu yang telah didapat. “Jadi tujuan SUNTIK II itu diselenggarakan untuk melanjutkan atau meneruskan pelatihan jurnalistik sebelumnya dan untuk menambah kader PMII yang mengerti akan dunia jurnalistik, dan sebagai wadah kader PMII untuk  belajar dunia jurnalistik dan mampu mengembangkannya serta para kader-kader PMII yang mengikuti SUNTIK II mampu bersaing di media sosial dan memberantas HOAX yang banyak beredar”, ujar Wirandony selaku Ketua Panitia kegiatan tersebut.

Siti Nurasiyah selaku peserta mengungkapkan banyak hal yang didapatkan setelah mengikuti kegiatan ini, salah satunya yaitu para peserta diberi pengetahuan tentang cara-cara memanajemen sosial media agar lebih bermanfaat. “banyak sekali yang saya dapat, yaitu dapat teman, ilmu serta pengalaman baru, dan yang paling saya ingat itu tentang gimana kita memanajemen sosial media kita supaya lebih bermanfaat”, ujar Mahasiswi semester awal ini.

Dengan diadakannya kegiatan ini, diharapkan  media-media uang dikelola secara individu  maupu organisasi PMII Kutai Timur tidak sepi, dan kader-kader PMII mampu mengunggah kegiatan-kegiatan yang telah dilaksanakan baik dari Rayon, Komisariat maupun Cabang. “Harapannya supaya nanti website PMII itu sendiri tidak sepi, semisal ada kegiatan yang dari Rayon, Komisariat ataupun Cabang kita harus sudah bisa membuat suatu berita sehingga kegiatan kita tidak terkesan mati”, ujar Abdul Rahman selaku Ketua PMII Komisariat STAI Sangatta dalam sambutanya. (Alf)