PMII Kembali Sholat

Merenungi Keadaan dan Kembali ke Tujuan Organisasi

Pentingnya Pendidikan Politik Sejak Dini

Contoh Kegiatan Politik Yang Tidak Mendidik

PMII Kutai Timur Gelar Konfercab

Konfercab PMII Cabang Kutai Timur

Sosok Kartini Masa Kini Telah Pergi

Sosok Inspirasi Pemudi Masa Kini

Noda Hitam Pesta Demokrasi

Pesta Lima Tahunan Yang Harus Dikawal Bersama

Mapaba PMII Kutim Banyak Peminat

Seperti rutinitas pada tiap-tiap tahun ajaran baru sebelumnya, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Kutai Timur (Kutim) mengadakan Penerimaan Anggota Baru, yang dilaksanakan pada tanggal 26-28 Agustus 2016 bertempat di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Al-Ma’arif, Jl. Pendidikan Sangatta Utara.

Kegiatan yang dinamai dengan Masa Penerimaan Anggota Baru (MAPABA) ini diikuti oleh sekira 80 orang yang ke semuanya merupakan mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Sangatta Kutim. Dalam rangkaian kegiatannya, MAPABA diisi dengan berbagai kegiatan dan penyampaian materi, diantaranya tentang ke-mahasiswa-an, ke-Indonesia-an, dan Ke-PMII-an.

Menurut Muhammad Nur, ketua panitia, MAPABA tersebut bertujuan untuk memperkenalkan PMII kepada para mahasiswa baru sekaligus menjadi pintu gerbang bagi yang ingin menjadi anggota PMII. “Dari sekira 100 yang mendaftar, 80 orang yang mengikuti MAPABA ini nantinya akan “digembleng” selama 3 hari. Di situ, para peserta akan diajak untuk mengikuti rangkaian kegiatan, mulai dari sholat malam, sholat 5 waktu, senam, dan penyampaian materi, ucapnya. Nur, panggilan akrabnya juga menambahkan bahwa MAPABA tersebut diharapkan bisa membekali anggota baru untuk betul-betul menjadi anggota PMII yang militan. Saat ditanyain kedua puluh pendaftar yang batal ikut, Nur mengatakan kedua puluh pendaftar tersebut tidak bisa ikut karena berbenturan dengan pekerjaannya. (Baca juga: Refleksi Kemerdekaan, PMII Soroti Pembangunan Kutim)

Untuk sekedar diketahui, rangkaian MAPABA ini merupakan kegiatan kaderisasi yang dikemas dengan nuansa religi, ilmiah dan santai. Lalu, salah satu peserta MAPABA mengaku cukup senang mengikuti kegiatan tersebut. Menurutnya, dia merasa banyak tambah teman dan mengetahui banyak hal yang sebelumnya belum pernah diketahui. “saya dan sahabat-sahabat cukup senang dan bangga setelah bergabung dengan PMII. Ada suasana baru dan keakraban yang begitu hangat yang kami rasakan di MAPABA ini, ujarnya dengan semangat.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, MAPABA kali ini dilaksanakan oleh pengurus rayon tarbiyah dan pengurus rayon syariah Komisariat PMII STAIS Kutim. Suci Nastiti selaku Ketua Umum Cabang PMII Kutim mengapresiasi kemandirian pengurus rayon dan komisariat yang mengadakan MAPABA secara mandiri. “Saya cukup bangga dan senang atas kemandirian sahabat-sahabat yang dengan jerih payah bisa melakukan MAPABA secara mandiri. Mudah-mudahan hal ini tetap berlanjut ke depan dan menjadi lebih baik lagi. Penting untuk di ketahui oleh para anggota baru, bahwa MAPABA ini hanya kulitnya saja, enam bulan ke depan kalau anda benar-benar serius ber PMII maka anda baru bisa disebut kader kalau anda sudah mengikuti PKD”, ujar Cici dalam sambutannya saat penutupan acara.***mchtr



Refleksi Kemerdekaan, PMII Menilai Belum Merdeka Sepenuhnya


Dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia ke 71, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Kutai Timur (Kutim) melakukan aksi damai turun ke jalan. Aksi tersebut dimaksudkan untuk menyampaikan aspirasi yang bertempat di simpang empat patung singa jalan Bontang-Sangatta pada Minggu (28/8).

Aksi damai diawali dengan beriringan mengendarai sepeda motor sembari mengibarkankan bendera dari Sekolah Menengah Pertama (SMP) Ma’arif Jl Pendidikan dan berhenti di simpang empat patung singa bontang. Peserta aksi sebanyak 130 orang yang tergabung dalam PMII tersebut berkumpul di bundaran patung singa, ada yang membentangkan spanduk dan poster bertuliskan beberapa persoalan yang disoroti kemudian sebagian lagi berorasi secara bergantian dari pukul 15.30 sampai 17.00 wita.

Persoalan yang disoroti antara lain masalah ketimpangan pendidikan, perekonomian yang belum merata dan pembangunan infrastruktur yang kurang maksimal. Menurut Cici, Ketua Umum PMII Cabang Kutim menuturkan Indonesia selama 71 tahun sampai saat ini baru merdeka dari penjajah atau peperangan senjata, tapi belum merdeka dari beberapa persoalan. “Sahabat tahu, Kutim merupakan Kabupaten cukup kaya, tapi apa yang terjadi, jalan masih banyak yang lobang, pendidikan tidak merata, masih adanya kekurangan guru di pelosok, dan ketimpangan pembangunan pendidikan yang tajam serta masih adanya warga miskin di kabupaten penghasil batu bara ini”, ucapnya saat orasi.

Senada dengan Cici, Abdul Manab sebagai koordinator lapangan dalam aksi tersebut menuturkan bahwa kegiatan tersebut dimaksudkan untuk merefleksi kemerdekaan Indonesia yang belum sepenuhnya merdeka. Dia berharap dengan adanya aksi tersebut bisa membuka mata hati para pejabat pemerintah di Kutim sebagai pengambil kebijakan untuk serius dalam melakuakan pembangunan khususnya di sektor pendidikan dan ekonomi. “Harapan saya pemerintah Kutim lebih serius lagi dalam melakukan pembangunan di sektor pendidikan dan pemerataan ekonomi. Sungguh mmiris melihat pendidikan kita yang tidak adil dan merata, untuk itu dengan ini mudah-mudahan kita semua terbuka dan peduli untuk bersama-sama membangun Kutim yang lebih baik”, ujar laki-laki asal Sandaran tersebut.

Setelah sekira satu jam tigapuluh menit berorasi, kemudian peserta aksi membaca sholawat bersama-sama kemudian ditutup dengan doa bersama. Dalam doanya, Abdul Azis yang memimpin doa tersebut berharap Kutim dijauhkan dari bala dan rakyatnya lebih sejahtera.***mchtr