PMII Kembali Sholat

Merenungi Keadaan dan Kembali ke Tujuan Organisasi

Pentingnya Pendidikan Politik Sejak Dini

Contoh Kegiatan Politik Yang Tidak Mendidik

PMII Kutai Timur Gelar Konfercab

Konfercab PMII Cabang Kutai Timur

Sosok Kartini Masa Kini Telah Pergi

Sosok Inspirasi Pemudi Masa Kini

Noda Hitam Pesta Demokrasi

Pesta Lima Tahunan Yang Harus Dikawal Bersama

PMII dan Kesetiaan terhadap Pancasila


Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia merupakan suatu organisasi kader yang di dalamnya diisi para mahasiswa Muslim yang landasan teologinya Ahlusunnah wal Jama’ah (Aswaja). Selain menggunakan paham Aswaja, PMII juga menetapkan Pancasila sebagai asas organisasinya. Pancasila diyakini sebagai suatu komitmen bersama the founding fathers bangsa Indonesia yang harus tetap terjaga keutuhannya sebagai dasar Negara. Karena PMII merupakan organisasi kepemudaan yang lahir di bumi Pancasila, maka PMII pun wajib membela dan mempertahankan Pancasila sebagai dasar Negara Indonesia yang mampu menyatukan seluruh rakyat Indonesia di tengah kemajemukan dan kepluralan masyarakat Indonesia.

Jika kita kembali pada sejarah lahirnya Pancasila, sebelum Pancasila ditetapkan sebagai landasan atau dasar Negara, berbagai benturan pandangan terjadi. Dalam sidang BPUPKI misalnya, peserta sidang terbagi menjadi dua kelompok besar, yaitu kalangan nasionalis dan kalangan agamis. Kedua kelompok ini masing-masing memiliki pandangan berbeda terhadap gagasan Soekarno yang menawarkan Pancasila sebagai ideologi Negara. Yang paling menonjol dalam perdebatan tersebut adalah terkait apakah Negara Indonesia akan menjadi negara sekuler atau negara agama. Namun di tengah perdebatan panjang diambilah suatu kesepakatan bersama, bahwa Indonesia dengan Pancasilanya bukanlah negara sekuler dan juga bukan negara agama. Dari kesepakatan ini dapat diambil suatu kesimpulan bahwa Indonesia adalah Negara Pancasila.

Sungguh menakjubkan, ide pemikiran politik yang terkandung di dalam Pancasila merupakan ramuan sempurna dan solutif. Para pendiri Negara mampu meramunya dengan sangat kreatif, dengan mengambil jalan tengah antara dua pilihan ekstrem, Negara sekuler atau negara agama. Mereka menyusunnya dengan rumusan yang begitu imajinatif di mana negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa. Coba bandingkan dengan Turki, di mana saat mencari jalan keluar dari kemerosotan Dinasti Utsmani yang berkuasa selama hampir delapan abad, akhirnya memilih negara sekuler yang ditandai dengan runtuhnya kekhalifahan pada Maret 1924. Turki pun menjadi negara sekuler pertama di tengah masyarakat Muslim.

Begitu pun di Pakistan. Negeri yang berdiri di atas bekas wilayah Dinasti Mogul itu, dari dua arus pemikiran politik yang bersaing saat menuju kemerdekaan, antara Ali Jinnah sebagai representasi gagasan negara sekuler dan Maududi sebagai representasi gagasan negara agama, toh akhirnya memilih jalan sebagai Negara Islam, setelah gagal mensenyawakan format yang solutif untuk sebuah dasar negara modern.
Pancasila, sebagai jalan tengah antara dua pemikran apakah Indonesia sebagai negara sekuler atau negara agama. Inilah konsensus bersama para pendiri bangsa saat menetapkan dasar atau ideologi Negara Indonesia. Kesepakatan yang mampu menyatukan pendapat dua kelompok baik kelompok nasionalis dan keslaompok agamis. Tidak ada satu pun kelompok yang dikecewakan dengan ditetapkannya Pancasila sebagai ideologi Negara.

Itulah sedikit petikan sejarah pergulatan tentang penetapan Pancasila sebagai ideologi Negara. PMII sebagai organisasi kepemudaan yang tidak bisa terlepas dari sejarah Indonesia tentu harus wajib mempertahankan Pancasila. Apalagi melihat realitas sekarang Pancasila begitu dikerdilkan bahkan terlupakan. Meski tak dapat dipungkiri trauma Orde Baru masih ada dalam bayang-bayang di segenap pemikiran rakyat Indonesia bagaimana Pancasila begitu ditegakkan dan dimasyarakatkan tetapi berdasarkan pengertian penguasa kala itu sehingga hanya dijadikan alat untuk memperthankan kekuasaan. Tetapi bukan karena itu kemudian kita meninggalkan Pancasila, karena Pancila adalah kesepakatan, komitmen dan konsensus bersama pendiri bangsa kita yang mampu menyatukan beragam pemikiran pendiri bangsa Indonesia sehingga Indonesia tetap kokoh sampai hari ini.

Setelah terbukanya kran demokrasi yang ditandai dengan reformasi, saat inilah kebebaasan begitu diagung-agungkan sehingga kebebasan pun mulai kebablasan, Pancasila mulai digoyang kembali oleh beberapa pemikiran ideology baik dari liberalism dan kapitalisme ataupun sosialisme-komunisme serta ideology islam radikal. Pancasila sudah dimasuki dengan neoliberalisme, sehingga kebijakan pemerintah pun terkadang lebih condong dari dasar neoliberalisme dari pada Pancsila itu sendiri. Begitupun ideologi Islam radikal, yang mulai tumbuh subur bak jamur di musim hujan. Teroris di mana-mana, tindakan kekerasan atas nama Islam merajalela dan penanaman pemikiran Islam yang tekstual dan inkontekstual yang begitu jauh dari semangat dan nilai-nilai Pancasila.

PMII dengan pemikiran Pancasilais dan nasionalisnya harus melawan pemikiran neoliberalisme yang merongrong bangsa Indonesia, begitupun dengan Islam radikal. PMII harus kembali membumikan Islam Indonesia di bumi Nusantara. Begitulah yang dikehendaki Pancasila dan para pendiri bangsa kita. Harus tetap menjaga orisinalitas bangsa di tanah air kita, jangan sampai terongrong oleh ideologi-ideologi yang begitu bertentangan dengan Pancasila. Pancasila lah pemersatu bangsa, Pancasila lah yang menjaga keutuhan NKRI, ini lah warisan luhur kita yang harus tetap kita jaga dan pertahankan sebagai ideologi Negara.

Ketika Pancasila sudah terganti oleh ideologi-ideologi lain, maka NKRI bubar, perjuangan para pahlawan dan the founding fathers kita untuk memerdekakan dan membentuk bangsa dan negara ini sia-sia. Kita sebagai kader PMII yang berasaskan Pancasila tentu tidak mau hal itu sampai terjadi. Pancasila dan NKRI adalah Final.

Oleh Falihin Barakati
Penulis adalah Wakil Ketua PKC Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Sulawesi Tenggara

PMII Komisariat STAI Sangatta Kembali Gelar Bimbingan Tes Intensif (BTI)

PMII KUTIM-Sudah menjadi rutinitas sejak tiga tahun terakhir, tahun ini Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) melalui Pengurus Komisariat kembali menggelar Bimbingan Tes Intenseif (BTI) bagi calon mahasiswa baru Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Sangatta. Kegiatan yang berlansung selama dua hari tersebut sukses dilaksanakan pada hari Sabtu sampai Minggu (16-17/7).

Kegiatan tersebut bertujuan memberikan  pengarahan secara lansung bagi calon Mahasiswa/i dalam   persiapan menuju seleksi penerimaan mahasiswa baru di STAI Sangatta Kutai Timur.

Dalam keterangannya ,Rafiko, selaku Ketua Komisariat menerangkan bahwa kegiatan  tersebut akan efektif bagi peserta BTI."Kegiatan ini sangat efektif, apa lagi di BTI ini sangat berguna bagi para peserta sebagai modal awal mereka untuk masuk di STAI Sangatta. Bimbingan yang kami berikan berupa tes baca al-Qur'an, tes kepribadian, dll". Terang pria yang merupakan mahasiwa semester 6 (enam) di STAI Sangatta tersebut.

Saat ditemui salah seorang peserta mengaku senang dengan adanya kegiatan tersebut."Menurut saya BTI ini bisa mempermudah saya masuk ke STAIS, karena materi yang dijarkan sebelumnya nanti kemungkinan akan muncul pas tes " ungkap wanita bernama Mulia Hardianti tersebut. "BTI ini kesannya asik, pelajaran yang kemarin sempat berhenti dipelajari (waktuSMA) kmbli teringat lagi.
BTI ini sangat membantu." tambahnya.

Kegiatan yang berlansung d gedung LDNU Kutai Timur tersebut sukses diikuti 64 (enam puluh empat) orang peserta. Pasalnya gelaran tahun ini merupakan yang paling banyak menggaet peserta dibanding pelaksanaan tahun sebelumnya, ini tidak lain dikarenakan kesuksesan PMII meluluskan kader BTI mereka 99 % sejak mulai digelar tahun 2013 lalu.

Pada sesi penutupan kegiatan, dalam sambutannya Abdul Rahman selaku Ketua Panitia mengiringi kepulangan peserta dengan doa semoga peserta BTI bisa lulus 100% dengan nilai yang memuaskan.

Penutupan BTI juga dirangkai dengan Halal bi Halal yang dihadiri oleh Suci Nastiti selaku Ketua Umum PMII Cabang  Kutai Timur beserta jajarannya, dan segenap Alumni PMII Kutai Timur. (#Jenwid)

Hindari Investasi Asing, PB PMII Nilai Pentingnya Kawal UU Tax Amnesty




JAKARTA – Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) menilai pentingnya peran serta masyarakat, dalam memantau implementasi Undang-Undang Tax Amnesty.

Hal tersebut disampaikan Huda Kalimullah, Bidang Ekonomi PB PMII di Jakarta, Rabu (13/7). Menurutnya, realisasi tax amnesty dapat dimanfaatkan untuk menghindarkan Indonesia dari investasi asing.

“Karena dalam hal ini, pemerintah sudah beritikat baik agar perekonomian Indonesia lebih sejahtera dan bisa mandiri dari investasi asing,” ujarnya.

Menurut Huda, ditariknya uang pengusaha yang ditanam di luar negeri melalui pengampunan pajak (tax amnesty), akan memberikan efek berupa peningkatan ekonomi negara. Karena dengan begitu, fokus perputaran uang pengusaha Indonesia akan terjadi di dalam negeri, yang tentunya bermanfaat untuk masyarakat luas.

“Harapan itu disambut hangat para legislator dengan disahkannya menjadi Undang-Undang Tax Amnesty 28 Juni kemarin. Cara ini bisa mengurangi tingkat pengangguran dan bisa berdampak positif terhadap pasar keuangan Indonesia di tengah pelemahan ekonomi global,” terangnya.

Meski demikian Huda menyadari, masih terdapat pihak yang menyayangkan disahkannya Undang-Undang Tax Amnesty. Yayasan Satu Keadilan dan Serikat Perjuangan Rakyat Indonesia misalnya. Mereka telah resmi mendaftarkan uji materi Undang-Undang Tax Amnesty ke Mahkamah Konstitusi, yang dianggap melegalkan praktik pencucian uang para pengemplang pajak.(Poy)