Catatan Ramadan 2020: Bertakwa di Tengah Pandemi Korona


Merebaknya Corona Virus Disease 19 atau yang biasa disebut virus Covid-19 memaksa manusia kembali ke keadaan yang tampak nadir. Capaian pesat cabang-cabang ilmu pengetahuan pada bidang sains, sosial, dan teknologi dalam peradaban yang tengah manapaki millenium ketiga ini ternyata masih tidak siap menghadapi makhluk Allah berbentuk nan mikroskopis.

Semua negara baik berstatus maju, berkembang, maupun miskin sama berjibaku menghadapi situasi ini. Peradaban semaju Eropa bahkan Amerika juga babak belur dengan korban yang tidak sedikit. Situasi ekonomi, hubungan internasional, sosial, budaya, pendidikan, hingga pekerjaan melambat dan terhambat. Manusia sebagai pemuncak rantai makanan di bumi dipaksa kembali ke keadaan sendirian di rumah isolasi. Baik secara mandiri maupun kolektif. Bagi yang sudah terjangkit maupun yang masih aktif. Bahkan situasi lebih jauh di negara atau kota-kota yang menerapkan lockdown, satwa liar berkeliaran menampakkan diri di jalanan pemukiman yang lengang.

Bagi umat Islam, keadaan ini terasa lebih “spesial” karena musibah pandemi ini masih berlangsung di tengah kehadiran bulan Ramadan. Bulan suci yang ditunggu-tunggu dengan janji ampunan dari Tuhan dan pahala yang berlipat ganda, perayaannya kini tidak lagi meriah. Tidak ada lagi shalat tarawih berjamaah, buka puasa bersama, sahur bersama, kultum, dan sederet aktifitas berjamaah lainnya di masjid-masjid, pesantren, atau panti sosial. Semua hamba, tidak terkecuali umat Islam, dipaksa harus kembali ke rumah masing-masing. Mengisi kegiatan dengan keluarga masing-masing.

Sebagai kesimpulan sederhana, di dunia ini Allah bertindak Mahaadil dengan tidak membeda-bedakan manusia dalam batas-batas agama, ras, negara, dan rasa kebangsaan. Semuanya menjadi lugu terimbas Korona. Wabah ini menjadi cerminan bahwa semua manusia lemah di hadapan-Nya. Baik bagi yang telah merasa paling dekat dengan Tuhan, maupun mereka yang terang-terangan menyatakan tidak membutuhkan-Nya. Tidak ada yang sakti menghadapi pandemi wabah ini.

Meskipun demikian bukan berarti jalannya bulan Ramadan kali ini tidak dapat membentuk ketakwaan. Sebagaimana diketahui, tujuan akhir puasa adalah membentuk pribadi yang bertakwa. Takwa dalam ajaran Islam adalah tingkat yang harus dicapai seorang muslim yang telah memahami dasar keimanan dan keislaman. Takwa adalah bentuk pengamalan dari pemahaman iman dan Islam. Takwa membentuk kepribadian yang utuh (kaffah) dalam bingkai rahmatan lil’alamiin. Dengan kata lain, pribadi yang bertakwa ikut serta menebar rahmat Allah ke segenap penjuru semesta.


يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (Al-Baqarah: 183)

Dalam dunia pergerakan, nilai takwa tidak kalah dari semboyan “dzikir, fikir, dan amal shaleh”. Bersama dengan intelektual dan profesional, takwa membentuk semboyan “takwa, intelektual, profesional”. Kedua semboyan tersebut setali tiga uang. Dzikir membentuk kepribadian takwa, fikir adalah dasar intelektualitas, dan amal shaleh sesuai kompetensinya akan membentuk profesionalitas. Sudahkah insan pergerakan menyatukan ketiga elemen tersebut dalam satu ketauhidan yang utuh? Jangan sampai terhenti pada tataran dzikir, atau fikir, atau hanya amal shaleh saja.

Lalu apa yang dapat dilakukan orang bertakwa di tengah pandemi Korona?

Secara bahasa, takwa diyakini berasal dari kata وقى/waqa, وقيا/waqyan, وقاية/wiqayatan yang berarti “menjaga” atau “melindungi”. Tergantung konteksnya, kata ini juga bisa bermakna “memperbaiki”. Dari kata ini berkembang اتَّقَى/ittaqa “menjadi orang yang bertakwa” dan توقى/tawaqqa yang berarti “menjauhi”, “takut kepada” atau “berhati-hati terhadap” sesuatu. Selanjutnya الوقاية/al-wiqayah berarti “kewaspadaan”, “kehati-hatian”, atau “perlindungan”. yakni sikap hati-hati dengan penuh kesadaran untuk siap siaga menghadapi keadaan apa pun. Bentuk lain dari kata ini adalah الموقى/al-mawqa yang bermakna “pemberani”, yakni berani meyakini dan bersikap benar.

Lafal takwa dalam Al-Quran tidak jauh-jauh dari konteks tersebut dengan makna yang lebih spesifik. Seperti beberapa contoh ayat berikut

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ 

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. (Ali 'Imran: 102)


وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِۖ ثُمَّ تُوَفَّىٰ كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan). (Al-Baqarah: 281)

Dengan demikian telah menjadi jelas tugas dari orang bertakwa di tengah pandemi Korona. Yakni seputar menjaga, melindungi, memperbaiki, waspada, dan berani. Pertama adalah menjaga dan melindungi diri sendiri dan sesama. Himbauan yang dikeluarkan oleh ulil amri (pemerintah) adalah dengan menjaga jarak (social dan physical distancing), cuci tangan pakai sabun, mengenakan masker saat keluar rumah, dan menghindari membuat jamaah (diskusi, pengajian offline, majlis dzikir dan shalawat, dsb.). Daerah yang telah berstatus PSBB tentu lebih ketat lagi dengan adanya jam malam. Semua pribadi harus memahami bahwa ini semua demi kebaikan bersama.

Kedua, memperbaiki diri dengan melakukan kontemplasi dan ibadah di kediaman masing-masing. Momen Ramadan kali ini dalam situasi pandemi adalah saat yang tepat untuk merelungkan lima amalan dalam syair Tombo Ati, kecuali berkumpul dengan orang shaleh. Hal ini pun masih bisa dilakukan melalui saluran streaming. Empat amalan Tombo Ati lainnya adalah membaca Al-Quran beserta terjemah maknanya, salat malam, perbanyak dzikir, dan menjaga lambung agar senantiasa “kosong”. Kosong yang dimaksud adalah sebagaimana yang diajarkan dalam Islam membagi lambung untuk tiga bagian. Sepertiga untuk makanan, sepertiga lagi untuk diisi air, selebihnya adalah ruang udara. Memperbaiki diri dengan menjauhi ghibah, namimah, serta fitnah yang keji.

Ketiga, adalah menerapkan prinsip kehati-hatian dalam setiap situasi dan kondisi. Kehati-hatian yang dimaksud bukanlah bersikap paranoid alias takut berlebih-lebihan, meskipun wabah Korona memang bukan pandemi mainan. Sikap hati-hati bukan pula keadaan menutup diri dari melakukan amal shaleh untuk kebaikan kolektif. Walaupun semua orang harus kembali ke rumah, kebaikan kolektif tetap dapat dilakukan tanpa mengesampingkan prinsip kehati-hatian. Dalam situasi ini sedekah tetap dapat dilaksanakan, pekerjaan dapat dialihkan atau diganti dengan penyesuaian, jamaah selama Ramadan bisa dilakukan di rumah, dan seterusnya dalam bingkai kewaspadaan. Ibadah secara sirran wa ‘alaaniyatan, rahasia atau terang-terangan.

Terakhir adalah menampakkan sikap berani. Berani tentu saja tidak sama dengan nekat alias ceroboh. Berani yang dimaksud bukan seperti keadaan seseorang merasa percaya diri secara berlebihan (jumawa) dengan imunitas tubuh atau ketahanan kelompok dari wabah Korona sehingga merasa kebal terhadap berbagai ancaman yang ada. Faktanya banyak orang tanpa gejala (OTG) yang tetap membutuhkan perawatan karena rentan menularkan wabah bagi orang-orang di sekitarnya. Bukan pula berani menentang putusan pemerintah baik pusat maupun daerah, meskipun sikap kritis tetap diperbolehkan dalam ranah konstruktif. Bukan muatan politis oportunis.

Berani yang dimaksud adalah sikap percaya diri menjalankan kehati-hatian di tengah kaum atau masyarakat yang belum memahami, atau terhadap orang yang masih menganggap sepele. Jika dikatakan hindari bersalaman dan mudik ke kampung halaman, maka sebisanya sikap berani muncul untuk tidak melakukan keduanya. Walaupun hasrat diri dan harapan keluarga menekan batin komunal kita karena telah menganggap salaman, mudik dan halal bihalal saat Idul Fitri sebagai budaya.

Tetap waspada adalah salah satu sikap takwa. Karena sampai saat ini belum ada prediksi para ahli yang bisa menggambarkan dengan tepat kapan saatnya akhir pandemi Korona. Biarpun Ramadan kali ini terasa sepi. Biarpun kemeriahan bulan puasa bergerak dalam senyap. Namun ketakwaan dalam diri tidak boleh pergi. Kita berdoa dan berupaya semoga tahun ini tidak dinobatkan sebagai tahun pandemi. Jadikan Ramadan kali ini tetap semarak dalam diri. Tetaplah bertakwa, mengasah intelektual dan profesional dalam bingkai dzikir, fikir, dan amal shaleh di bulan suci.

Allaahumma innaka ‘afuwwun kariim, tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annaa yaa kariim.

----------------------------------------

Masduki Zakariya,
- Guru PAI SMP Al-Fatah Surabaya (Ma'arif)
- Sekretaris Umum demisioner PMII Kutim tahun 2016

0 Comments