Agama dan Mie Instan


Pagi ini saya sarapan sarimi rasa pecel. Saya masak sendiri, karen saya suka masak sendiri untuk urusan mie instan.

Sambil masak saya berfikir, mie rasa pecel ini menurut saya terlalu jauh dari pecel asli. Tak ada sayur mayurnya, bahkan sambel pecelnya pun tidak ada.

Yang membuat sedikit nyerempet dengan pecel mungkin karena adanya rasa-rasa kacang di minyak sayurnya. Itupun saya masih ragu, apakah benar itu dari kacang asli atau bukan.

Semua mie instan rasa apa saja demikian kejadiannya. Rasa bakso gak ada pentolnya, rasa soto ayam gak ada ayamnya, rasa iga bakar gak ada iganya, dan seterusnya. Namun bagi penikmat mie, kita cukup puas meskipun hanya rasa yang mendekati asli. Tapi subtansinya sama sekali jauh panggang dari api.

Fenomena tersebut ternyata terjadi juga dalam agama. Banyak sekali yang menawarkan beragama hanya pada taraf rasa saja. Tapi subtansinya tetap jauh dari agama. dalam banyak hal penawaran-penawaran tersebut justru mengkebiri hal-hal yang substansial dalam beragama. sebagai contoh, bagaimana Nabi Muhammad dengan tegas mengatakan :

إنما بعثت لأتم صالح الاخلق

"Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang sholeh". (HR: Bukhari dalam shahih Bukhari kitab Adab, Baihaqi dalam kitab Syu’bil Iman dan Hakim).

Namun justeru akhlaq yang terpuji banyak diumbar sebagian yang membawa panji-panji Islam. Kebiasaan memfitnah, mencaci yang tak sepaham, mengutuk bahkan mengkafirkan saudara muslim yang tidak sama pendapatnya. Benar mereka berpenampilan Islami, namun substansi perilakunya jauh dari islam yang di kehendaki Nabi Muhammad.

Maka marilah kita mencari Islam yang tidak pada taraf rasa saja. Kita laksanakan Islam secara menyeluruh. baik penampilan, pemikiran, perasaan, lebih-lebih perilaku.

0 Comments