Masyarakat Indonesia di Tengah Isu-isu Dunia




Beberapa bulan belakangan, banyak isu yang menjadi sorotan masyarakat indonesia berasal dari atau berhubungan dengan luar negeri. Sebut saja kisah pertemuan beberapa anggota DPR RI dengan salah satu calon presiden amerikat serikat, tragedy crane dan mina yang menimpa Jemaah haji di arab Saudi, Malaysia dan singapura yang merasa terganggu dengan asap Indonesia, perang di suriah yang melibatkan banyak Negara dan kelompok, gelombang pengungsi rohingya yang terombang ambing di lautan Indonesia, pengungsi suriah yang bergerak ke dataran eropa, dan masih banyak contoh kejadian lainnya.


Bila kita telaah lagi, sejatinya bukan hanya terbatas pada kejadian-kejadian di luar negeri saja yang menjadi perhatian kita belakangan ini. Akan tetapi juga pemikiran sampai ideology dari manca Negara sudah menjadi konsen masyarakat Indonesia. Kita bisa ingat ideology yang di usung ISIS pernah dan masih meresahkan kita, lalu bagaimana masyarakat juga konsen dengan syi’ah, suni dan wahabi. Bahkan pernah juga muncul tokoh-tokoh Negara lain tiba-tiba menjadi idola masyarakat indonesia. 

Beberapa saat yang lalu presiden turkey dan raja arab bahkan menjadi pujaan beberapa kalangan di Indonesia. Lebih kebelakang lagi presiden iran Ahmadinejad dan obama juga pernah jadi figure popular. Ternyata kini masyarakat Indonesia tidak hanya membahas dan konsen dalam urusan local dan nasional saja. Akan tetapi juga mulai ingin tahu, atau bahasa anak muda sekarang “kepo” dengan isu-isu lintas Negara. Ramalan tentang dunia akan menjadi seperti sebuah kampong kecil kini sepertinya telah terjadi. Apa dan bagaimana sesuatu terjadi di belahan bumi lainnya kini seperti terjadi di sudut lain kampung kita. Akan menjadi perbincangan dan perhatian serius kita.

Namun ke-ingin tahu-an masyarakat Indonesia jarang di barengi dengan pemahaman dan kemampuan yang mumpuni dalam menelaah dan meyikapi isu-isu tersebut. Banyak orang bahkan menjadi korban isu serta berita sesat dan meyesatkan. Kurang mengerti dengan bahasa asing menjadikan kita menerima kabar tidak dari sumber aslinya. Melainkan dari sumber-sumber kedua, ketiga dan seterusnya yang menterjemahkan ke dalam bahasa yang kita pahami. Tanpa tahu bahwa hal itu sangat rawan dengan penyimpangan dan penafsiran yang jauh melenceng dari berita aslinya. 

Belum lagi kalau sumber utamanyapun sarat akan kepentingan kelompok-kelompok tertentu. Sehingga menyajikan dengan tidak seimbang bahkan mungkin tidak benar. Guna mencari simpati dan pembelaan dari para penyimak. Parahnya masyarakat kita adalah masyarakat yang unik, unik karena kita mudah bersimpati, mudah percaya, mudah membenci dan mudah pula lupa. Sehingga di tengah simpang siurnya berita dan opini yang sangat kompleks tersebut kita seakan-akan terombang ambing tak tentu arah. Terkadang kita membela si-A dan tak suka si-B, tapi terkadang kebalikannya. Dan esok hari kita sama-sama mendukung keduanya untuk melawan si-C. padahal si-C dahulu adalah teman kita.

Sebuah konflik biasanya tidak sederhana, apalagi bila konflik tersebut melibatkan multi Negara. Tentu akan bertambah tingkat kompleksitasnya. Mulai dari kepentingan politik, sejarah, ekonomi, militer sampai ideology akan bersaling silang dalam konflik tersebut. Sangking ruwetnya akan terlihat sangat membingungkan bagi orang yang tak paham betul permasalahannya. Sehingga memilih “taklid buta” kepada sumber yang ia merasa tak akan pernah berdusta. Tanpa sekalipun mengkritisi yang sumber tersebut sampaikan.

Kondisi demikian sangatlah merugikan bangsa Indonesia. Masyarakat jadi mudah terprovokasi dan terkotak-kotak. Sehingga sesame bangsa sendiri justru saling berkonflik. Bahkan dalam kadar tertentu meyebabkan disintegrasi bangsa. Sering kali kita melihat sesorang akan benar-benar membenci saudaranya sebangsa hanya karena berbeda sikap dalam sebuah konflik. Konflik tersebut bahakan tidak berhenti antar warga, namun juga sudah mengarah ke warga vs Negara. Negara dianggap tidak sepaham atau sependapat dengannya sehingga di cap sebagai musuh yang mergikannya. Hal demikian tentu sangat berbahaya bila terus terjadi.

Untuk itu, tentu sangat penting kita mulai membekali diri dengan kemampuan dan wawasan yang baik dalam menyikapi sebuah isu. Kita perlu meningkatkan daya kritis kita. Daya kritis akan membuat kita pandai menyaring informasi-informasi yang tidak benar atau benar namun bercampur dengan kedustaan. kita juga perlu membuka hati kita, dengan membuka hati kita tidak akan mudah percaya dan fanatic kepada satu pihak saja. 

Selain mendengar informasi dari satu pihak kita juga bisa menyimak informasi tersebut dari sisi pihak lainnya. Sehingga duduk permasalahan suatu konflik atau isu jelas dan terang benderang. Kita juga perlu memperluas wawasan kita. Bila kita mempunyai wawasan yang luas kita akan mudah memahami kemana arah suatu isu bergerak. Sehingga kita bisa memprediksi dan menerka apa sebenarnya di balik isu tersebut. Dengan wawasan yang luas kita juga bisa memetakan konflik dan isu tersebut serta memahami dimana kita harus memposisikan diri. Dan tentu saja kita harus pandai-pandai memilah milah sumber yang di rujuk. Dengan keterbatasan bahasa yang kita miliki sangat susah mencari informasi dari sumber aslinya. Sehingga kita harus merujuk ke sumber kedua dan seterusnya. Untuk itu kita harus memilih sumber rujukan yang benar-benar bisa di percaya. Hanya karena sumber tersebut seperti membela kepentingan kita, belum tentu sumber itu benar. Cari tau track recordnya dan pendapat orang lain tentang sumber tersebut.

Beberapa tips diatas tentu tidak 100% persen akan membuat kita pandai dan ahli dalam menyikapi isu internasional. Namun paling tidak kita akan lebih terjaga dari dusta yang kerap di taburkan di sana-sini mengiringi berita-berita di media.

3 comments: