PMII Kembali Sholat

Merenungi Keadaan dan Kembali ke Tujuan Organisasi

Pentingnya Pendidikan Politik Sejak Dini

Contoh Kegiatan Politik Yang Tidak Mendidik

PMII Kutai Timur Gelar Konfercab

Konfercab PMII Cabang Kutai Timur

Sosok Kartini Masa Kini Telah Pergi

Sosok Inspirasi Pemudi Masa Kini

Noda Hitam Pesta Demokrasi

Pesta Lima Tahunan Yang Harus Dikawal Bersama

Perdana, PMII Kutim Gagas “Kelas Ideologis Aswaja”



pmiikutim.or.id,-Minggu, (24/1) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Kutai Timur sukses menggelar pertemuan perdana Kelas Idelogis Aswaja di Masjid Al-Amanah Sangatta Utara, Kutai Timur.

Kelas Ideologis Aswaja ini dihadiri semua Pengurus maupun anggota PMII Kutai Timur dari tingkatan Cabang sampai Rayon. Kelas Ideologis ini bertujuan untuk memperkuat basic pengetahuan kader PMII Kutim dalam pergulatan Islam Ahlussunah  Wal Jama’ah dan menjadi benteng dari derasnya doktrin paham keagamaan yang konserpativ dan cenderung radikal belakangan ini.

Kegiatan ini akan berlangsung sebanyak 6 kali pertemuan dengan berbagai tema yang mengupas Ahlussunah Wal Jama’ah dari Tradisi Ubudiyah sampai aplikasi Muamalah. Pertemuan perdana telah tuntas mengupas sejarah kemunculan aliran pemikiran Islam, selanjutnya kelas ini akan membahas aspek peradaban Islam mulai kejayaan sampai keruntuhannya pada era renaissance Eropa. Selain itu anggota PMII juga akan mencoba menkaji berbagai fenomena ekosospol prespektif Aswaja.

PMII yang merupakan salah satu organisasi ke Islaman terbesar di Indonesia diharap terus konsisten dalam  melakukan kaderisasi dan penanaman manhaj Ahlussunnah Wal Jama’ah sebagai bentuk tanggung jawab besar dalam menangkal gerakan Islam transnasional, mulai dari yang mudah membid’ahkan, mengkafirkan, sampai ingin mengganti sistem Negara ini menjadi khilafah. "Bahwasanya kader pergerakan harus bisa menjadi benteng pertahanan NKRI dari faham-faham yang mudah membid’ahkan dan  megkafirkan," ujar Andre Ketua Panitia Kelas Ideologis.

Mahfud Ifendi dalam materinya yang berjudul “Sejarah Pemikiran Teologi Islam dan Aliran Pemikiran Dalam Teologi Islam” menjelaskan berbagai latarbelakang munculnya berbagai aliran keagamaan sejak wafatnya Rasulullah SAW sampai sekarang. Aliran-aliran keagaamaan yang jadi bahan diskursus dalam pertemuan pertama tersebut diantaranya faham Syiah, Khawarij, Murjiah, Mu’tazilah, Jabariyah, Qadariyah, Karamiyah, Hululiyah, Wahabiyah dan Ahlusunnah Wal Jamaah.

Sebagai organisasi mahasiswa keislaman yang lahir dari Rahim Nahdlatul Ulama, PMII dituntut untuk mengambil peran dalam merawat eksistensi Islam ramah diIndonesia. “PMII harus mampu meradaptasi dari berbagai faham radikal yang hari ini mulai tumbuh subur di bangsa ini," katanya. (Iws)



Sekolah Aswaja, PMII Komisariat STAIS Dalami Manhaj Al Fikr


pmiikutim.or.id,- Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) memaknai Ahlussunnah wal Jama’ah(Aswaja) sebagai dasar atau metode berfikir (Manhaj Al Fikr) yang digariskan Sahabat Nabi dan pengikutnya. Sebagai langkah awal untuk memahami makna Ahlussunnah wal Jama’ah tersebut, PMII Komisariat STAI Sangatta Kutai Timur mengadakan Sekolah Aswaja dengan mengusung tema “Membumisasikan Aswaja di Bumi Nusantara”. Kegiatan tersebut dikuti anggota lintas rayon yang berlangsung pada hari minggu, 20 Januari 2019 di lantai 2 Masjid Islamic Center Sangatta.

Tujuan yang ingin dicapai dengan terselenggaranya kegiatan ini. agar anggota PMII mampu memahami sejarah  perkembangan dan keterkaitan Aswaja dengan PMII, hingga konsep Islam Rahmatan lil Alamin yang diyakini PMII. “Sebagai warga pergerakan yang baik, kita harus mengetahui sejarah Aswaja yang menjadi dasar ideologi pergerakan kita” ucap Ketua Panitia, Daimurrahma Utami.

Dalam kegiatan ini panitia menghadirkan narasumber yang kompeten dibidangnya antara lain Bapak H. Abdurrahim Yunus, DE.A, Bapak Imam Syafi’i, M.Pd dan Bapak Sismanto, S.Pd. M.KPd. Seusai memaparkan materi , acara dilancutkan dengan sesi diskusi. Salah satu pertanyaan yang muncul dalam forum tersebut mengenai pengikut Islam kaku bahkan sampai garis keras.

Menurut Narasumber, corak Islam yang keras dan kaku bukanlah identitas Islam yang dianut PMII. Orang Indonesia yang berislam tidak perlu memaksakan diri harus berjenggot dan bercelana cingkrang. Karena Islam bukanlah Arab dan begitupula sebaliknya.


Dengan berlangsungnya kegiatan ini, para peserta diharapkan lebih paham dengan manhaj PMII dan mampu mengaplikasikan ilmu yang telah didapat dalam kehidupan sehari-hari khususnya dalam berorganisasi.(Alf)



KOPRI PMII Kutim Sambut Meriah Harlah Ke-51


pmiikutim.or.id,-Peringatan Hari Lahir ke-51 KOPRI yang digelar di Kutai Timur berlangsung dengan meriah.  Dengan mengusung tema “Menciptakan Perempuan yang Akademis dan Berjiwa Nasionalis” panitia bermaksud mendorong partisipasi perempuan untuk tampil sebagai pelopor keilmuan yang cinta tanah air. Pasalnya perempuan bukan hanya bisa  mengerjakan pekerjaan dirumah tapi mampu membela negara agar tidak selalu tertindas dari kaum laki-laki seperti  yang populer didengar. Perempuan harus berani, terus bergerak dan bangkit mulai dari sekarang.

Peringatan Harlah KOPRI yang berlansung pada 24-25 November 2018 yang diselenggarakan di Aula SD Negeri 011 Sangatta Utara ditujukan untuk membuktikan bahwa kopri  adalah pelopor gerakan progresif keperempuanan. Dengan diadakan acara ini, KOPRI diharapkan menjadi tauladan gerakan perempuan yang edukatif bagi  perempuan.

Menyambut usianya yang mencapai setengah abad, KOPRI PMII Kutai Timur menyelenggarakan berbagai macam perlombaan mulai dari lomba Orasi, Presentasi Essay hingga Menghias Tumpeng. Sebagai penutup kegiatan ini ditutup dengan Dialog Keperempuanan yang menghadirkan narasumber perempuan antara lain Sahabati  Zulfatun Mahmuda selaku peneliti senior di PT KPC, Sahabati  Ulfa Jamilatul Farida, M.S.I selaku Komisioner KPU Kutai Timur, Sahabati Tirah selaku aktivis perempuan dibidang advokasi dan Sahabat Randi Muhammad Gumilang sebagai pembanding dari kalangan Akademisi.
 Dalam paparannya, para narasumber mendorong perempuan agar produktif dan inovatif meskipun berada dibawah tekanan superioritas kaum Adam. “Bahkan dilingkup organisasi pun, peran perempuan sangat penting untuk mengaktifkan organisasi” tutur Zulfatun Mahmudah.

Acara ini berlangsung sangat meriah dan sesuai harapan.  Terlihat jajaran kepengurusan Rayon, Komisariat, Cabang dan IKA PMII  Kutai Timur turut hadir dan berpartisipasi dalam memeriahkan acara ini.(Alf)



Belajar Pendidikan Yang Memanusiakan Di Rayon PAI



pmiikutim.or.id-,Menurut Paulo Freire Pendidikan haruslah yang membebaskan. Inilah topik  yang diangkat oleh sahabat Dayu Irwan dalam kajian Publik Speaking Rayon PAI. Kegiatan tersebut dilaksanakan disekretariat KOPRI di Jln. Hidayatullah Gg. Hikmah A. Pada sore hari senin,26 Desember 2018. Kegiatan rutinan ini berjalan lancar dan sukses , dihadiri oleh anggota lintas rayon, dimulai pada pukul 15.30 wita sampai pukul 18.00 wita.

Mengilhami pesan orang bijak, Logika tanpa logistik akan macet seperti persimpangang lampu merah Jakarta. Oleh karenanya sebelum acara dimulai fasiliator kegiatan memastikan asupan gizi sebagai bahan jamuan berupa sirup mangga yang menyejukan siap memanjakan audienct. Pembukaan dimulai dengan prolog oleh moderator sahabat Nuktah. “Paolu Fereire adalah pelopor pemikir pendidikan yang memanusiakan manusia”, kalimat singkat pengantar dari Sang pemandu.

Sebagai Pemateri, Irwan menegaskan”Pendidikan membebaskan menurut Paulo lebih menekankan pada kesadaran manusia itu sendiri dalam berfikir dan sejauh mana usaha untuk terus menggali pengetahuan, dan tingkah laku seperti pendidikan akhlaq harus diterapkan sebagai penunjang pembelajaran” tukasnya dengan penuh keyakinan.

selepas  menjelaskan subtansi yang terkandung dalam teori Paulo Freire, sang moderator mempersilakan kepada audient untuk bertanya, dan menanggapinya.
“Pendidikan yang membebaskan adalah suatu pendidikan yang tidak membatasi peserta didik untuk belajar, baik dalam segi sarana dan prasarana, guru, tempat maupun sumber ilmu pengetahuan itu sendiri, layaknya sebagai mahasiswa, kita mengikuti organisasi, kita tidak membatasi untuk belajar bersama organisasi yang lainnya” tutur Dudung, selaku audient Public Speaking.

Pendidikan dari zaman purbakaladisadari sebagai  hal yang subtantif dalam kehidupan manusia. Khazanah pemikirian Paulo adalah sepenggal pengetahuan yang memeperkaya khazanah tersebut.Bagi PMII, kader mengemban tanggungjawab mengkaji suatu khazanah keilmuwan, baik seiring dengan perkembangan zaman, sehingga pendidikan adalah satu-satunya benteng pertahanan untuk memastikan bahwa manusia tetaplah memanusiakan. (Mgh)