PMII Kembali Sholat

Merenungi Keadaan dan Kembali ke Tujuan Organisasi

Pentingnya Pendidikan Politik Sejak Dini

Contoh Kegiatan Politik Yang Tidak Mendidik

PMII Kutai Timur Gelar Konfercab

Konfercab PMII Cabang Kutai Timur

Sosok Kartini Masa Kini Telah Pergi

Sosok Inspirasi Pemudi Masa Kini

Noda Hitam Pesta Demokrasi

Pesta Lima Tahunan Yang Harus Dikawal Bersama

SUNTIK II, Wadah Pembelajaran Jurnalistik Anggota PMII Kutai Timur




pmiikutim.or.id,-Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Menejemen Pendidikan Islam (MPI) dan Komisariat STAIS, bekerjasama mengadakan kegiatan Sekolah Jurnalistik Ke-II (SUNTIK II) pada hari Sabtu-Minggu (23-24/12/2018) di Gedung DPD KNPI Kutai Timur.

Kegiatan ini mengambil perwakilan peserta dari delegasi masing-masing Rayon diantaranya Rayon Pendidikan Agama Islam (PAI), Rayon Menejemen Pendidikan Islam (MPI), Rayon Akhwalus Syakhsiyyah (AS) dan Rayon Beriun Ekonimi Syariah (Beriun EKIS).

Sekolah Jurnalistik ini sebelumnya sudah pernah dilaksanakan 2016 lalu. Selain itu kegiatan ini diharapkan menyediakan wadah kader PMII KUTIM untuk belajar dunia jurnalistik sehingga mampu mengembangkannya ilmu yang telah didapat. “Jadi tujuan SUNTIK II itu diselenggarakan untuk melanjutkan atau meneruskan pelatihan jurnalistik sebelumnya dan untuk menambah kader PMII yang mengerti akan dunia jurnalistik, dan sebagai wadah kader PMII untuk  belajar dunia jurnalistik dan mampu mengembangkannya serta para kader-kader PMII yang mengikuti SUNTIK II mampu bersaing di media sosial dan memberantas HOAX yang banyak beredar”, ujar Wirandony selaku Ketua Panitia kegiatan tersebut.

Siti Nurasiyah selaku peserta mengungkapkan banyak hal yang didapatkan setelah mengikuti kegiatan ini, salah satunya yaitu para peserta diberi pengetahuan tentang cara-cara memanajemen sosial media agar lebih bermanfaat. “banyak sekali yang saya dapat, yaitu dapat teman, ilmu serta pengalaman baru, dan yang paling saya ingat itu tentang gimana kita memanajemen sosial media kita supaya lebih bermanfaat”, ujar Mahasiswi semester awal ini.

Dengan diadakannya kegiatan ini, diharapkan  media-media uang dikelola secara individu  maupu organisasi PMII Kutai Timur tidak sepi, dan kader-kader PMII mampu mengunggah kegiatan-kegiatan yang telah dilaksanakan baik dari Rayon, Komisariat maupun Cabang. “Harapannya supaya nanti website PMII itu sendiri tidak sepi, semisal ada kegiatan yang dari Rayon, Komisariat ataupun Cabang kita harus sudah bisa membuat suatu berita sehingga kegiatan kita tidak terkesan mati”, ujar Abdul Rahman selaku Ketua PMII Komisariat STAI Sangatta dalam sambutanya. (Alf)

Panti Jompo Jadi Ruang Refleksi Peringatan Hari Ibu KOPRI Cabang Kutai Timur


pmiikutim.or.id ,- Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan KORP PMII  Putri (KOPRI)  Cabang Kutai Timur memperingati Hari Ibu dengan menyambangi Yayasan PONPES Manula (Panti Jompo) Al-Maghfiroh yang terletak di Desa Martadinata, Kec. Teluk Pandan  Kutai Timur(22/12/2018).

Kunjungan ini bertujuan untuk memberi warna baru dalam memperingati Hari Ibu yang mana kagiatan seperti ini sangat jarang dilakukan. “Kami ingin memberikan hal dan warna baru agar lebih berkesan dalam peringatan hari Ibu tahun ini”, ujar Fitri Zulaiha selaku Ketua KOPRI Cabang Kutai Timur.

Secara goegrafis Yayasan Panti Jompo Al-Maghfiroh termasuk ke dalam wilayah Kutai Timur, namun karena posisinya yang berada di pinggir daerah (berbatasan dengan Kota Bontang) menjadikan Yayasan ini tidak mendapat perhatian oleh pemerintah Kab. Kutai Timur. “Panti ini masih dalam wilayah Kutai Timur, cuma karena posisinya di pinggiran Sangatta jadi tidak tersentuh sama pemerintah Kutai Timur padahal semua prosedur sudah kami lewati dan kita sudah menghadap langsung ke Bupatinya”, ujar Bu Asih selaku Pengasuh Yayasan Panti Jompo Al-Maghfiroh ini.

Berdasarkan keterangan pihak Yayasan, terdapat  delapan manula dan empat anak-anak yang dirawat dan dibina di Yayasan ini. Kegiatan sehari hari bertumpu pada tenaga relawan yang turut membantu yaitu 2 Kepala Keluarga sebagai relawan tetap dan dua orang sebagai relawan tidak tetap. “Disini kami merawat 8 lansia dan 4 anak-anak yang merupakan korban dari perceraian orang tuanya, kegiatan yang dilakukan relawan yaitu berkebun bagi yang laki-laki dan yang perempuan biasanya bersih-bersih dan membantu mengurus para lansia”, tambah Asih.

"Jejak Kaki Di Ufuk Rindu"


Jejak Kaki Di Ufuk Rindu
Karya : siti saijah

Sahabat-sahabatiku..
Dapatkah Sejenak untuk memberi kabar ?
Masihkah kalian Menghirup udara segar?
Jalan di jalan mulus dan lancar
Serta ilmu yang di peroleh tanpa bayar

Sahabat - sahabatiku...
Ku ingat, malam ini jadwalnya mengkaji
Aku sudah berlari hingga tertatih
Tapi Aku kecewa lelahku tak terbayar
Semua rancanganku Buyar
Yang kutemukan hanya jejak kaki satu,dua biji
Pertanyaanya kemana kalian semua pergi ?
Seingatku kita sama-sama mengikrarkan janji
Jangan bersikap seolah ingin menghianati dan berhenti
Karena Hal itu membuat diriku pilu tak dapat Berdiri

Sahabat - sahabatiku..
Mari kita sama-sama kupas
Apa alasan yang membuat kalian malas
Agar kita bisa bersama membunuh rasa jenuh
Dan membuahkan hasil sekret  yang kembali penuh !!

Rayon Beriun Gelar Kegiatan Rayon Lawyers Club (RLC)


 
pmiikutim.or,id,- Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Beriun Ekonomi Syariah(BERIUN EKIS) STAIS Kutai Timur, menyelenggarakan kegiatan yang merupakan terobosan baru yaitu ”Rayon Lawyers Club (RLC)” pada hari Sabtu (15/12/2018) di Gedung KNPI Kutai Timur.
Rayon Lawyers Club merupakan program kerja Rayon Beriun EKIS dengan mengusung tema “Masa Depan Kader PMII Tidak Dalam Keadaan Baik-Baik Saja” yang bertujuan untuk meberikan warna baru  terhadap kegiatan-kegiatan PMII KUTIM dan sebagai pembuktian akan keseriusan para pengurus dalam mengemban amanah.
Abdul Rahman selaku Ketua Rayon Beriun EKIS yang sekaligus sebagai penanggung jawab kegiatan RLC mengemukakan “kegiatan ini diselenggarakan dengan tujuan untuk membuat warna baru terhadap kegiatan-kegiatan PMII KUTIM, sebagai bentuk keseriusan kami sebagai pengurus dalam mengemban amanah, sebagai ajang silaturahmi antar kepengurusan dan sebagai tempat menyampaikan keluh kesah”, jelasnya.
Dalam suatu organisasi pasti ada kendala dan permasalahan yang harus dihadapi dan diselesaikan. Salah satunya yaitu mengenai kualitas para kader PMII saat ini. Maka dari itu, sangat dibutuhkan adanya diskusi untuk mencari jalan keluar dari setiap permasalahan yang ada.
Moh. Riki S,Pd selaku penasehat Debat RLC  menuturkan “kita harus mencari jalan keluar untuk membuat kader-kader PMII lebih berkualitas, salah satunya dengan cara diskusi”, ujarnya.
 Para anggota PMII sangat dianjurkan untuk konsisten dalam mengikuti kegiatan-kegiatan yang telah diadakan serta dihimbau agar tidak bosan dan terkena seleksi alam. Ketua dan Sekretaris PMII Cabang Kutai Timur memberikan gagasan berupa mengadakan Sistem TOR yang merupakan sistem terprogram guna untuk mengatasi kader yang mulai menghilang.
“Sistem TOR merupakan sistem terprogram yang dibuat untuk mengatasi kader yang mulai hilang dan terkena seleksi alam”. Pungkas Zulkadrin, SE selaku Sekretaris Umum PMII Cabang Kutai Timur.
Kegiatan ini diakhiri dengan halal bihalal antar sesama pengurus dan anggota PMII Cabang Kutai Timur. (Alf)

Kuliah Maulid: PMII Kutim Peringati Maulid Nabi Muhammad SAW. 1440 H

pmiikutim.or.id ,- Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Kutai Timur memperingati Kelahiran Nabi Muhammad SAW. 1440 H dengan mengadakan Kuliah Maulid yang diikuti oleh seluruh kader dan anggota PMII di Sekretariat PMII Cabang Kutai Timur (22/11/18).

Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. ini mengangkat tema “Berkaca Pada Nabi SAW. Ditengah Dekadensi Ahlak Umat Akhir Zaman”. Kegiatan ini dibuka dengan pembacaan Sholawat yang dipimpin oleh Laskar Sholawat PMII Kutim dan dilanjutkan dengan kuliah maulid yang disampaikan oleh jajaran Alumni PMII, diantaranya Muchtar, M.Pd , Ali Basuki, S.Pd.I , Imam Hanafi, MA , Imam Syafi'i, M.Pd dan Haryono, M.Si.

Selain untuk memperingati Kelahiran Nabi Muhammad SAW, kegiatan ini juga bertujuan memberikan pelajaran agar kader dan anggota PMII dapat mengikuti jejak Rasulullah yang pantang menyerah dan selalu optimis menghadapi dunia yang semakin modern.

“Harapannya kader dan anggota milenial PMII dapat mengikuti jejak Rasulullah yang pantang menyerah dan selalu optimis menghadapi dunia yang semakin modern”. Tutur Abdul Manab selaku Ketua PMII Kutai Timur. (Alf)

KOPRI Lintas Rayon Se-Kutim Diskusikan Gerakan Perempuan PMII



pmiikutim.or.id,- Korps PMII Putri (KOPRI) lintas Rayon  di STAI Sangatta Kutai Timur melaksanakan diskusi bersama yang melibatkan lima pengurus KOPRI Rayon, diantaranya Rayon PGMI (Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyyah), Rayon MPI (Menejemen Pendidikan Islam), Rayon PAI (Pendidikan Agama Islam), Rayon Beriun EKIS (Beriun Ekonomi Syariah) dan Rayon AS (Ahwalu Syakhsiyah)  yang berlansung pada Rabu sore di  Lamin Adat Bukit Pelangi (14/11/2018).

Ketua KOPRI Rayon Beriun EKIS, Suci Indah Sari menerangkan diskusi ini merupakan program kerja sama antara KOPRI Beriun EKIS, KOPRI Rayon AS dan KOPRI Rayon PGMI. “jadi acara kemarin itu termasuk dalam proker (program kerja) KOPRI Rayon Beriun EKIS yang bekerja sama dengan KOPRI Rayon AS dan KOPRI rayon PGMI” jelasnya.

"Ngusik Bareng" , Kajian Asik ala Rayon MPI


pmiikutim.or.id,- Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Menejemen Pendidikan Islam (MPI) STAIS Kutai Timur, mengadakan kegiatan “Ngusik Bareng MPI” pada hari Minggu (11/11/18) di Sekretariat PMII Kutai Timur.

Agenda tersebut merupakan program kerja rayon bidang kaderisasi yang bersifat berkelanjutan. Pertemuan yang digelar disekretariat PMII tersebut merupakan kelanjutan dari pertemuan pertama yang seminggu sebelumnya diadakan di Lamin Adat Bukit Pelagi.

Meski dilaksanakaan oleh rayon MPI, kegiatan ini tidak hanya diperutukkan untuk anggota rayon MPI, namun anggota rayon lainpun juga bisa ikut andil dalam kegiatan tersebut.
Andri Winarto selaku sekretaris panitia kegiatan mengungkapkan “Kegiatan ini diperuntukkan untuk anggota rayon MPI tetapi disisi  lain tidak menutup kesempatan untuk sahabat/sahabati dari rayon lain untuk andil dalam diskusi bersama MPI” ,tutur mahasiswa semester lima tersebut.

Selain mendapat ilmu yang bermanfaat, kegiatan ini bertujuan untuk melatih peserta agar berani dan bisa berbicara di depan umum. “Tujuan kegiatan ini yaitu selain untuk mendapat ilmu yang bermanfaat, kegiatan ini juga bertujuan untuk melatih public speaking para peserta diskusi agar bisa dan berani berbicara di depan umum sehingga para peserta tidak canggung dalam mengikuti diskusi-diskusi di forum yang lebih besar”, tambahnya.

Mengangkat tema-tema seputar Manajemen Pendidikan Islam, Rayon yang dipimpin oleh Ahmad Malinto tersebut menghadirkan Muchtar, M.Pd selaku instruktur tetap kegiatan yang akan berlansung sebanyak empat sesi pertemuan ini. Selain sebagai ketua Majelis Pembina Cabang PMII Kutai Timur, instruktur dikenal sebagai akademisi dibidang pendidikan Islam yang kompeten untuk mengarahkan peserta ketujuan kegiatan.

Untuk menarik minat sahabat-sahabati agar mau ikut andil dalam diskusi ini, maka pihak panitia membuat strategi dengan mengundang ketua-ketua rayon dan melakukan promosi melalui media sosial. “Untuk menarik minat sahabat-sahabati agar mau ikut andil dalam diskusi ini, maka pihak panitia membuat strategi yaitu dengan memiliki antusias untuk kemudian mengundang ketua rayon untuk memberikan perwakilan dari anggotanya untuk mengikuti tersebut dan pihak panitia juga melakukan promosi melalui media sosial”, terangnya. (Alf)

Asal Usul Penindasan Perempuan

pmiikutim.or.id,-Pada sejarahnya Morgan telah membedah sejarah perkembangan masyarakatnya, yaitu terdapat 3 babak zaman; zaman kebuasan, zaman kebiadaban (barbar), dan zaman peradaban. Morgan mengidentifikasikan pada setiap babak zaman penekanannya terhadap alat produksi yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang paling pokok manusia, yaitu "pangan".

Morgan sebagai antropolog yang diamini oleh Engels terhadap penelitiannya dengan diterbitkannya buku "Asal Usul Keluarga, Negara, dan Kepemilikan Pribadi", kalau kita bedah ke 3 babak zaman tersebut pembeda pada zaman kebuasan dan barbar adalah seperti perkembangan zaman komunal primitif ke zaman perbudakan menurut sejarah perkembangan masyarakat - Karl Marx.

Pada zaman kebuasan yang kita ketahui mulai dari manusia yang tidak mempunyai alat produksi sampai pada tahap menemukan alat produksi yang sederhana yaitu tombak dan panah untuk kebutuhan dalam aktivitas produksinya (mencari pangan) terlihat tidak ada perbedaan pembagian kerja pada kaum laki-laki maupun perempuan, 

Kemudian zaman berganti karena faktor alam yaitu diluar kendali manusia itu sendiri yaitu zaman es mencair. Banyak makhluk hidup yang mengalami seleksi alam, maka kehidupan pun mulai barbar, banyak terjadi penguasaan manusia atas daerah yang mereka tempati karena tempat tinggal mereka sudah tak seleluasa dulu, penguasaan manusia antar manusia tak terelakan demi memenuhi kebutuhan sehari-hari, alat produksi pun ikut berubah seiring dengan perkembangan zaman dan kreatifitas manusia itu sendiri, yaitu dengan ditemukannua tembikar dan per-api-an yang dibuktikan dengan kehidupan manusia yang lebih banyak tinggal di pinggir sungai.

Tetapi ada yang perlu diketahui yaitu pada zaman barbar tahap tengah, ketika beternak sebagai pengganti alat produksi demi kehidupan sehari-harinya, terjadi PENDOMESTIKAN yaitu pembagian kerja pada kaum laki-laki dan perempuan.

Biasanya perempuan dan laki-laki sama-sama terlibat langsung dalam aktivitas produksinya, pada babak ini terdapat pembagian kerja; yaitu laki-laki yang terlibat langsung dengan aktivitas produksinya (bertemu langsung dengan alat produksi) sedangkan perempuan mengerjakan hal yang bersifat domestik (menyiapkan masakan untuk laki-laki di rumah, merawat anak, dan lain lain). 
Pada saat inilah terbentuknya keluarga inti yang muncul dan terwariskan hingga kini  yaitu; ayah, ibu dan anak. 

Beriringan dengan terbentuknya keluarga dan pedomestikasian terbentuklah budaya patriarki yang kita kenal sampai hari ini,  karena pada awalnya ketergantungan kaum perempuan pada laki-laki atas basis perekonomiannya hingga merembet kepada basis budaya serta politik.

Sampai pada titik akhir di zaman barbar manusia telah mengenal nilai surplus dan kepemilikan pribadi sehingga membutuhkan pasar untuk restribusi dan menghasilkan keuntungan dan mengembalikan modal mereka. Pada zaman peradaban pun penindasan perempuan semakin tak terelakan dengan masuknya tatanan kehidupan dan corak produksi yang sudah berbeda yang semakin maju Negara pun turut hadir untuk mengamankan surplus yang ada. 

Perempuan semakin bergantung terhadap kaum laki-laki, karena kebutuhan ekonominya hanya bisa dipenuhi atas laki-laki yaitu efek sudah terbiasa untuk tidak melakukan aktivitas produksi seperti dahulu; sehingga ada stigma perempuan itu lemah, tidak percaya diri untuk tampil dalam hal layak publik (minder).

Tak kalah massivnya sistem Imperialisme-Kapitalisme memanfaatkan budaya patriarki untuk menjadikan perempuan sebagai komoditas dari mulai kepala sampai kakinya. Maka dari itu perjuangan perempuan adalah perjuangan kebudayaan melawan budaya patriarki, dan pembebasan nasional dari belenggu Imperialisme-Kapitalisme, dapat saya katakan disini bahwa penindasan kaum perempuan berarti berlipat ganda.

Perempuan harus kembali melakukan aktivitas produksinya dengan merebut alat produksi dengan arti pembebasan nasional, ataupun pekerjaan domestiknya menjadi sebuah hal yang diperhitungkan sebagai aktivitas produksi karena hari ini negara menganggap pekerjaan domestik sebagai hal yang remeh dan tidak perlu diperhitungkan sehingga menjadi celah untuk Imperialisme-Kapitalisme untuk mengambil surplus kembali..

Perempuan bersama laki-laki turut melaksanakan pembebasan nasional dengan watak yang demokratis untuk menghancurkan budaya patriarki yang terus menggerogoti kebebasan kaum perempuan, karena menurut Lenin "syarat dari revolusi adalah pembebasan perempuan". 
Wallahualam.

Ditulis Oleh Siti Saijah, Anggota PMII Rayon Beriun EKIS angkatan 2018.

PMII Kutai Timur Gelar Tabligh Hari Santri




pmiikutim.or.id,-Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Kutai Timur memperingati Hari Santri Nasional dengan mengadakan Tabligh Hari Santri yang diikuti oleh masyarakat Sangatta dan anggota PMII Kamis (25/10/2018) di Masjid Ar-Rohiim Sangatta.

PMII yang merupakan bagian dari elemen santri berpenggang teguh pada ajaran islam Ahlussunnah Wal-Jama'ah tentu punya tanggung jawab moral untuk memeriahkan peringatan Hari Santri Nasional. Dalam kegiatan Tabligh Hari Santri tersebut, PMII Kutim mengangkat Tema “Pentingnya peran santri diera globalisasi dalam membentuk generasi Ulul Albab”.

Kegiatan peringatan Hari Santri yang diketuai oleh Sahabat Gustian ini sukses terlaksana dengan diawali pembacaan Shalawat dipimpin oleh Laskar Sholawat PMII Kutim dan dilanjutkan dengan tabligh akbar yang disampaikan KH. Sobirin Bagus, MM, Alumni PMII yang merupakan Mantan Ketua MUI Kutai Timur .

Elemen Cipayung Plus (PMII, GMNI, HMI, BEM) Rayakan HUT Kutim Ke-19 dengan Aksi Perlawanan



pmiikutim.or.id,- Jum’at, 12 Oktober 2018 bukan hari yang biasa bagi warga Kutai Timur. Tepat 19 tahun lalu, kabupaten yang terkenal dengan emas hitamnya ini resmi menjadi satu daerah otonom dari sekian banyak daerah lainnya diseluruh  Indonesia pasca kejatuhan Orde Baru dibawah pimpinan soeharto.

Riuh sambutan atas hari lahir tersebut, begitu meriah diperingati setiap tahunnya di Ibu Kota Kabupaten ini, Sangatta. Ini bisa terlihat juga pada beberapa hari terakhir ini.  Tak ayal berbagai event digelar oleh pemerintah Kabupaten, mulai dari jalan santai dihiasi dengan bagi-bagi hadiah, gelaran panggung-pagung bernyanyi dengan artis-artis ternama, sampai pada pamer-pamer keberhasilan pembangunan oleh perangkat-perangkat daerah. Sangat meriah.

Namun, ada yang berbeda pada peringatan hari lahir Kutai Timur  yang ke-19 kali ini. Tak mau ketinggalan, elemen Mahasiswa yang menjadi tumpuan harapan masa depan Kutai Timur bergerak membuat perayaanya sendiri. Dibawah bendera yang berbeda-beda seperti, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dibawah pimpinan Abdul Manab, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) pimpinan Khaerudin, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) pimpinan Nasir Alimudin, BEM STAIS , BEM STIPER, BEM STIE Nusantara dan Lingkar Studi Kerakyatan (LSK) serta elemen mahasiswa lainnya,  bersatu membentuk gerakan tandingan memperingati hari lahir Kutai Timur dengan Aksi Long March.

MAPABA XIX PMII Kutai Timur Lahirkan Generasi Ulul Albab


Indonesia Berduka, PMII Kutim Galang Donasi Untuk Sul-Teng



pmiikutim.or.id,-Indonesia kembali berduka. Tepat hari Jum’at 28 September 2018 gempa berkekutan 7,7 skalaritcher mengguncang sejumlah wilayah di Sulawesi Tengah bahkan sempat terasa dibeberapa wilayah di Kalimantan Timur. Tak ayal, gempa ini disusul dengan bencana tsunami yang melanda pesisir wilayah Kota Palu dan sekitarnya. Sampai berita ini diturunkan, tercatat 402 orang dikabarkan meninggal dunia dan ratusan lainnya luka-luka, bahkan kerugian materi belum diketahui sampai saat ini.

Duka yang mendalam masyarakat Palu dan sekitarnya ini sontak mebuat masyarakat diseluruh Indonesia ikut merasakan duka.  Demikian pula dengan keluarga besar  Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), terlebih kota Palu baru saja menjadi  arena Kongres PMII 2017 lalu.

Sehari berselang, PMII Kutai Timur lansung mengadakan penggalangan donasi untuk korban. Aksi yang dilaksanakan pada pukul 14.00-18.00 tersebut berlansung di beberapa titik diantaranya, Simpang Pendidikan, Simpang Munthe, Simpang 4 APT Pranoto, Folder Sangatta, Pasar Induk dan berakhir di Pantai Wisata Kenyamukan.

Bertindak sebagai Kordinator Aksi, Riki, menerangkan bahwa  aksi galang dana ini sebagai bentuk solidaritas PMII kepada saudara kita yang  ada di Sulawesi Tengah. “Demi meringankan duka saudara kita di Palu, aksi galang dana ini lansung kita lakukan sehari berselang”, terangnya.

Peringati 1 Muharram, PMII Kritisi Prilaku Beragama Manusia




pmiikutim.or.id,- Mayambut tahun baru Islam 1440 H, PMII tidak mau kehilangan momentum. Pergantian tahun Hijriyah tersebut disambut dengan kegiatan Kajian Muharram yang dilaksanakan oleh Rayon Pendidikan Agama Islam (PAI). Tujuannya, selain sekedar silaturahim juga untuk saling sharing, dan berbagi pengetahuan mengenai implementasi dan tantangan muslim di era milenial.
Mengangkat tema “Kritik Prilaku Beragama Manusia Akhir Zaman”, kajian kali ini berjalan menarik dibawah arahan pemantik  Imam Hanafi, MA selaku Akademisi dan  Ali Basuki,S. Pd.I  Ketua PELITA Kutai Timur.