PMII Kembali Sholat

Merenungi Keadaan dan Kembali ke Tujuan Organisasi

Pentingnya Pendidikan Politik Sejak Dini

Contoh Kegiatan Politik Yang Tidak Mendidik

PMII Kutai Timur Gelar Konfercab

Konfercab PMII Cabang Kutai Timur

Sosok Kartini Masa Kini Telah Pergi

Sosok Inspirasi Pemudi Masa Kini

Noda Hitam Pesta Demokrasi

Pesta Lima Tahunan Yang Harus Dikawal Bersama

Aksi Solidaritas PMII KUTIM Peduli ACEH

 Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) cabang Kutai Timur melakukan kegiatan aksi solidaritas peduli bencana untuk membantu korban bencana gempa bumi di Aceh pada minggu, (11/12/16). Kegiatan tersebut dilaksanakan dibeberapa titik yaitu pasar Sangatta Selatan, Pasar Induk, Simpang 4 Jl APT Pranoto, Simpang 3 Pendidikan, taman bersemi STQ, folder pasar Induk dan pantai kenyamukan.

Aksi solidaritas peduli bencana diikuti sebanyak 60 orang anggota PMII Cabang Kutai Timur, aksi tersebut di awali pada pukul 08.00 wita dengan do’a bersama untuk keselamatan dan kelancaran kegiatan, kemudian dilakukan pemetaan lokasi galang dana dan langsung menuju lokasi yang telah di tentukan hingga berakhir kegiatan pada pukul  19.00 wita di Pantai Kenyamukan. Dalam kegiatan aksi solidaritas tersebut terkumpul dana sejumlah Rp. 13.561.300,00 yang berasal dari sumbangsih masyarakat Kab.Kutai Timur.

Zainal Kurnain, selaku koordinator aksi mengatakan bahwa kami dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) melakukan aksi solidaritas ini untuk membantu meringankan beban korban gempa Aceh, meskipun terkendala hujan namun semangat dari sahabat-sahabat PMII tetap membara untuk turun ke jalan melakukan aksi solidaritas peduli Aceh. “Ini adalah awal bagi kami, jika dibutuhkan kami (PMII) akan selalu siap”, tuturnya.

Hajrah, selaku salah satu dari koordinator lapangan mengatakan bahwa aksi solidaritas peduli Aceh ini dilakukan bukan lain hanya untuk mengajak masyarakat Kutai Timur untuk mewujudkan rasa solidaritas atau rasa kepedulian dan rasa empati sahabat-sahabati PMII Kutai Timur dan masyakat Kutai Timur untuk membantu korban bencana gempa di Aceh agar bisa meringankan sedikit beban korban bencana tersebut, ujarnya. 
Saya mengucapan terimah kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh sahabat-sahabati PMII Kutai Timur dan seluruh masyarakat  Kutai Timur yang telah memberikan sumbangsih untuk korban bencana di Aceh, semoga dapat bermanfaat buat mereka semua. Amin, pungkasnya. (HF)
Kenyamukan menjadi tempat terakhir penggalangan dana


Pengumpulan sumbangan di Taman Bersemi (STQ)

Orasi kepedulian untuk berbagi



PMII Kutim adakan Mapaba AKBAR

Sabtu (12-13/11/2016) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Kutai Timur melaksanakan kegiatan Masa Penerimaan Anggota Baru (MAPABA) Akbar di jalan kilo 7 pertamina Desa Sangatta Selatan. Mapaba merupakan kegiatan kaderisasi formal yang wajib diikuti oleh calon anggota baru yang ingin masuk di PMII. Mapaba ini diikuti oleh tiga perguruan tinggi yaitu Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Sangatta, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi  (STIE) Nusantara, dan Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIPER).

Suci Nastiti, selaku Ketua Umum PMII Cabang Kutai Timur mengatakan bahwa Kegiatan MAPABA ini sedikit spesial dikarenakan kegiatannya diramaikan oleh 3 Kampus yang ada di Kabupaten Kutai Timur. “InsyaAllah  selesai MAPABA AKBAR rencananya akan langsung dibentuk Komisariat PMII persiapan untuk kampus STIPER dan STIE semoga dimudahkan”, tuturnya.

Ketua Panitia Kegiatan MAPABA Akbar Sahabati Hajrah mengatakan bahwa kegiatan tersebut dilaksanakan pada hari sabtu-minggu, tanggal 12-13 Nopember 2016 di jalan kilo 7 pertamina Desa Sangatta Selatan. MAPABA Akbar ini dilaksanakan agar dapat melahirkan anggota muktakid yang dapat mewujudkan visi dan tujuan PMII yaitu ke Islaman dan keIndonesian.
Dia menjelaskan tentang persiapan panitia MAPABA Akbar yang telah dilakukan beberapa kali pertemuan untuk rapat demi mensukseskan acara ini,   kegiatan tersebut  diikuti  oleh 24  peserta selama dua hari, ujarnya.

PMII CAB KUTIM, FOKUS SIAPKAN MAPABA AKBAR

Sabtu (05/11/2016) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Kutai Timur fokus mempersiapkan kegiatan Masa Penerimaan Anggota Baru (MAPABA) Akbar di Sekretariat PC PMII Kutai Timur. Mapaba merupakan kegiatan kaderisasi formal yang wajib diikuti oleh calon anggota baru yang ingin masuk di PMII. Mapaba ini akan diikuti oleh tiga perguruan tinggi yaitu Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Sangatta, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi  (STIE) Nusantara, dan Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIPER).

Suci Nastiti, selaku Ketua Umum PMII Cabang Kutai Timur mengatakan bahwa Kegiatan MAPABA ini sedikit spesial dikarenakan kegiatannya akan diramaikan oleh 3 Kampus yang ada di Kabupaten Kutai Timur. “InsyaAllah setelah selesai MAPABA AKBAR rencananya akan langsung dibentuk Komisariat PMII persiapan untuk kampus STIPER dan STIE semoga dimudahkan”, tuturnya.

Ketua Panitia Kegiatan MAPABA Akbar Sahabati Hajrah mengatakan bahwa kegiatan tersebut akan dilaksanakan pada hari sabtu-minggu, tanggal 12-13 Nopember 2016 di jalan kilo 7 pertamina Desa Sangatta Selatan. MAPABA Akbar ini dilaksanakan agar dapat melahirkan anggota muktakid yang dapat mewujudkan visi dan tujuan PMII yaitu ke Islaman dan keIndonesian.

Dia menjelaskan tentang persiapan MAPABA Akbar yang telah dilakukan beberapa kali pertemuan untuk rapat dan persiapannya sudah hampir mencapai 95%, kegiatan tersebut rencananya akan diikuti kurang lebih 30 peserta, ujarnya.

FMI GELORAKAN SEMANGAT MAHASISWA


Pergerakan News, Anggota Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang tergabung didalam komunitas Free Market of Idea (FMI) membuat kegiatan diskusi yang membahas tentang peran-peran mahasiswa dari masa ke masa, yang mana mahasiswa dapat menggulirkan kursi kekuasaan seorang penguasa pada masa orde baru hingga gerakan mahasiswa pada era kini. Peran mahasiswa pada saat ini sudah tak lagi sama, jika dulu mahasiswa berperan sebagai middle-man (perantara), sekarang mahasiswa tak lagi berperan sebagai middle-man. Hal ini dikarenakan saat ini masyarakat mampu menyampaikan aspirasinya langsung ke penguasa (pemerintah) ,melalui keterbukaan publik yang telah dijamin undang-undang. Dari hal ini mahasiswa harus pandai-pandai menempatkan diri, mampu membaca situasi dan berpikir kritis tentang segala sesuatu yang terjadi pada saat ini.
Kegiatan FMI ini bertujuan untuk membakar semangat dari kami para mahasiswa itu sendiri, yang mana agar para mahasiswa dapat lebih mengeksplor diri dan tidak pasif. Komunitas ini melakukan pertemuan perdana pada hari Senin, (10/10/16) di Jalan Diponegoro Gg taruna 2, dalam pertemuan tersebut dihadiri oleh seorang fasilitator yang merupakan Ketua I Internal PC PMII Kutai Timur sahabat Zulkadrin dan anggota PMII Kutai Timur sebanyak 10 orang.(TP)

KOPRI PEDULI BENCANA

Rabu, (12/1016) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (KOPRI) PC PMII Kutai Timur melakukan kegiatan Bakti Sosial (BAKSOS) di Posko Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang berada di depan Hotel Golden, untuk korban kebakaran yang melenyapkan 41 barakan dan 3 rumah di Jalan Bhayangkara. Hal ini menggerakkan hati dari para KOPRI untuk menyalurkan bantuan yang berupa sembako dan baju layak pakai. Tujuan dari kegiatan baksos tersebut adalah untuk meringankan beban korban kebakaran yang terjadi pada Senin, (10/10/16). 

Pengumpulan bantuan berupa sembako dan baju layak pakai dikumpulkan selama kurang lebih dua hari di Sekretariat PC PMII Kutai Timur, bantuan tersebut berasal dari sahabat/sahabati PMII dan sumbangan sukarela dari warga sekitar. 

Dalam sela-sela kesibukannya mengumpulkan bantuan, Sahabati Nor Azizah selaku Sekretaris Umum KOPRI PC PMII Kutai Timur yang juga merupakan Koordinator Baksos mengatakan, “Semoga korban diberi ketabahan dan kesabaran untuk menjalani ujian ini, dan kami berharap semoga bantuan dari KOPRI dapat meringankan sedikit beban para korban”,ungkapnya.(TP)

PMII Cabang Kutai Timur, Inisiatif Ingin Hidupkan Kembali PMII Bontang

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Kutai Timur mendatangi Sekretariat Nahdlatul Ulama (NU) Bontang pada Minggu, 09/10/2016 untuk bersilaturahmi dengan Pengurus Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kota Bontang guna membicarakan keinginan sahabat/i PMII Cabang Kutai Timur yang ingin menghidupkan kembali PMII Cabang Bontang.

Dalam pertemuan tersebut selain dihadiri oleh Pengurus PMII Cabang Kutai Timur dan Pengurus IPNU, juga dihadiri oleh alumni PMII dari Kutai Timur, alumni PMII Pontianak serta Ketua KNPI Kota Bontang yang juga merupakan Alumni PMII Bontang.

Pertemuan tersebut merupakan ajang silaturahmi sekaligus membahas keinginan dari sahabat/i PMII yang ingin kembali menghidupkan kembali PMII di Kota Bontang, yang menjadi cita-cita bersama baik dari alumni maupun pengurus aktif organisasi PMII.

Suci Nastiti, selaku Ketua Cabang PMII Kutai Timur menyampaikan bahwa PMII Kutim dalm waktu dekat akan mengadakan kegiatan kaderisasi yaitu Mapaba Akbar. “Kami berharap ada sahabat/i dari bontang yang bisa dikirim untuk mengikuti kegiatan tersebut agar bisa menjadi cikal bakal pengurus PMII Bontang yang akan datang”tuturnya.

Baik dari Ketua KNPI maupun Ketua IPNU Bontang, kedua-duanya siap untuk memfasilitasi dan membantu kegiatan kaderisasi yang ada di PMII demi terbentuknya kembali PMII Cabang Bontang.(NS)

PMII Kutim dalam menyambut Hari Kesaktian Pancasila dan Tahun Baru Islam


Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Kutai Timur mengadakan kegiatan Refleksi hari kesaktian pancasila dan peringatan tahun baru Islam yang diselenggarakan pada hari Minggu (02/10/2016). Kegiatan tersebut dilaksanakan di Sekretariat PMII yang di hadiri oleh seluruh Kader serta anggota dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Kutai Timur. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk merefleksikan perjalanan dari hari kesaktian pancasila dan tahun baru islam dimana PMII ingin membangun kembali semangat Nasionalme dan Keagamaan.

Dalam penjelasannya, Sismanto selaku pemateri dalam kegiatan tersebut mengatakan bahwa Islam dan Pancasila merupakan sebuah kesatuan yang tidak bisa dipisahkan, perjalanan bangsa ini juga tidak lepas dari peran para pahlawan dan ulama, nilai-nilai yang terkandung didalam pancasila merupakan rumusan yang dibuat oleh para pendiri bangsa dan disetujui oleh para ulama karena tidak bertentangan dengan nilai-nilai dan sesuai dengan yang diaajarkan didalam agama Islam. “Negara Indonesia merupakan negara multikultural yang harus kita jaga warisannya, itulah yang mampu menyatukan kita, walaupun kita berbeda NKRI harga Mati”, pungkasnya.

Abdul Azis, ketua pelaksana kegiatan Refleksi peringatan tahun baru islam dan hari kesaktian pancasila menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan kolaborasi antara Islam dan Nasionalisme karena mengingat waktu moment peringatannya yang berdekatan. “Hari ini nilai-nilai yang terkandung didalam pancasila sudah mulai luntur, nilai-nlai kegamaan pun juga tidak terlalu terlihat menonjol sehingga perlu dilaksanakan kegiatan refleksi agar kita paham tentang makna pancasila dan makna dari tahun baru Islam dan mampu untuk memperbaiki diri”, tuturnya.

Hari kesaktian pancasila dapat kita maknai bahwa sebagai bangsa Indonesia harus mampu menanamkan nilai-nilai Pancasila didalam setiap lini kehidupan karena pancasila merupakan simbol dan dasar dari negara Indonesia yang telah dirumuskan oleh para pendiri bangsa dan ulama-ulama. “Seorang warga pergerakan wajib memperingati Hari Kesaktian Pancasila dan tahun baru islam agar kita tahu bagaimana sejarah bangsa Indonesia dari segi kolaborasi antara agama dan nasionalisme, kemerdekaan negara ini tidaklah lepas dari perjuangan para ulama dan santri untuk memerdekakan negara Indonesia, dengan adanya kegiatan ini mampu menimbulkan marwah (semangat) dari warga pergerakan”. tutur Suci Nastiti Ketua Umum PMII Cabang Kutai Timur. (NA)


Lahan Pertanian Menipis, PB PMII Soroti RTRW Nasional


JAKARTA – Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII), Aminuddin Ma’ruf meminta seluruh cabang PMII agar serius mengawasi tata ruang daerah. Pasalnya, RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah) yang tak beres, menjadi salah satu faktor utama menipisnya lahan pertanian .

“Kiranya penting merumuskan bagaimana pengelolaan tata ruang yang berkeadilan, tidak hanya distribusi tanah dan faktor produksi. Tapi bagaimana pemerintah bisa menata, khususnya ini akan menjadi persoalan yang luar biasa bagi kota-kota yang mengelilingi Ibukota,” ujar Amin pada Agrarian Informal Meeting PMII di Jakarta (28/9).

Amin mengatakan, terdapat kekhawatiran ketika pembangunan Indonesia ke depan akan terus menggusur daerah pertanian. Menurutnya, hal tersebut akan sangat berdampak pada tingginya harga kebutuhan pokok.

“Ketika pembangunan menggusur daerah pertanian dan resapan, akan terus mengurangi daerah yang mensuplai bahan makanan. Sehingga pada akhirnya harga kebutuhan pokok akan semakin tinggi, inflasi akan semakin tinggi, sehingga kesejahteraan masyarakat akan semakin menurun,” ujarnya.

Selain itu menurutnya, tanah menjadi faktor produksi utama yang berpengaruh langsung terhadap produktifitas masyarakat yang dalam hal ini adalah petani. Sehingga pentingnya pengawasan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) untuk tetap menjaga produktifitas petani.

“Bagaimana mereka bisa produktif kalau tanah saja mereka tidak punya,” tegasnya.

Terkait hal tersebut, PB PMII dikoordinir oleh Ketua PB PMII Bidang Agraria dan Lingkungan Hidup Syarif Susanto dan Sekretaris Taufik Nurrohim, menginisiasi ‘agrarian informal meeting’ PMII untuk mengevaluasi dan merumuskan tata ruang dan reformasi agraria yang berkeadilan.

“Di sinilah tugas PMII sebagai agen of social control, untuk bagaimana mengawal tata ruang agar sesuai dengan apa yang tertuang dalam RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah). Baik di kabupaten, provinsi maupun nasional,” ujarnya.(Poy)

Rayon KTP Tarbiyah dan Rayon Orbit Syariah, Kompak Adakan Pelatihan Public Speaking



Sabtu, 24/09/2016 Rayon Ki Ageng Tunggang Parangan dan Rayon orbit Syariah Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat STAI Sangatta kompak mengadakan kegiatan Pelatihan Public Speaking untuk mahasiswa/i baru Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Sangatta yang tergabung dalam anggota baru PMII Angkatan Marang Ulin. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Pantai Kenyamukan dan dihadiri oleh Pengurus serta anggota baru PMII Rayon Ki Ageng Tunggang Parangan Tarbiyah dan Rayon Orbit Syariah.

“Pelatihan Public Speaking ini sengaja kami laksanakan untuk mengasah kemampuan berbicara atau retorika sahabat-sahabat khususnya bagi anggota baru PMII agar mampu beretorika sesuai dengan pembahasan yang dijadikan tema dan mampu bersaing dengan teman-teman yang lain”, tutur Peri Sandria selaku Ketua Rayon KTP Tarbiyah.

Dalam sambutannya Ketua Rayon Orbit Syariah, Abdul Rahman mengatakan “Sahabat PMII harus mampu menunjukkan bahwa sahabat-sahabat memiliki kualitas yang lebih dibandingkan dengan mahasiswa/i baru yang lain yang tidak mengikuti organisasi atau bahkan yang mengikuti organisasi lain. Kami sengaja mengundang para senior Pengurus Cabang khususnya Ketua Umum dan Bagian Kaderisasi untuk dapat menjadi Fasilitator dalam kegiatan tersebut, agar kegiatan tersebut bisa berjalan dengan maksimal dan memudahkan sahabat-sahabat baru untuk belajar beretorika”, pungkasnya. (NS)


Menjaga Kesatuan, Menpora Ingatkan Tugas PMII


JATIM – “Dengan olahraga, perbedaan suku, agama, dan adat istiadat tidak akan ada artinya saat berlaga di lapangan, yang ada hanya merah putih”.
Demikian dikatakan Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi saat menghadiri kegiatan Pelantikan Pengurus Koordinator Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PKC PMII) di di Balai Pemuda Jawa Timur, Sabtu (3/9). Menurutnya, PMII sebagai organisasi kemahasiswaan memiliki tugas penting untuk turut merekatkan perbedaan tersebut.
“Ini merupakan salah satu tugas generasi muda di PMII untuk merekatkan perbedaan yang ada, dan tetap tawazul sesuai ajaran Ahlussunnah Wal Jamaah,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, menteri yang biasa disapa Cak Imam ini juga mengajak seluruh pemuda di Indonesia untuk memasyarakatkan olahraga. Ia meyakini, bahwa olahraga mampu menyelesaikan banyak hal.
“Misalnya sebelum memulai kongres bisa dilakukan festival olahraga terlebih dahulu. Hal ini terbukti efektif karena setelah olahraga semua energi negatif sudah terbuang, sehingga semua peserta kongres lebih fresh (Segar),” terangnya.
Terkait persiapan PON yang akan diselenggarakan pada tanggal 9 September 2016 nanti, ia berharap Pemprov Jawa Timur siap menyambut ribuan peserta dari seluruh Idonesia. Menurutnya, Jatim sangat pantas menjadi tuan rumah PON karena telah melahirkan olimpian seperti Tantowi Ahmad.
“Tantowi Ahmad memang asli Banyumas namun pernah mondok di PP. Queen Al Falah Kediri selama tiga Bulan,” jelasnya.
Di sisi lain, Gubernur Jawa Timur, Soekarwo yang juga hadir dalam pelantikan PCK PMII Jawa Timur tersebut berharap, PMII dapat memberi kontribusi positif untuk kemajuan Jawa Timur. “Hal ini sesuai teori Capra yang menjelaskan bahwa negara yang maju adalah yang berbasis etika dan moralitas, terlebih pemuda yang bergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) juga berbasis spiritual,” tutur Gubernur yang akrab disapa Pakde Karwo.
PMII, menurut Gubernur dua periode tersebut memiliki modal utama menghadapi pasar bebas yakni basis spiritual dan etika. Dua modal itu dapat digunakan PMII untuk mengembangkan potensi ribuan kader, tentu menghindari menjadi penonton di negeri sendiri. Pemprov Jatim, jelas Pakde Karwo, mengapresiasi setiap anak muda yang bersemangat dan bersedia menjadi agen perubahan untuk kesejahteraan masyarakat Jawa Timur.
“Persaingan pasar bebas tidak lagi dapat dihindarkan, untuk itu mahasiswa dan pemuda agar dapat merespon kompetisi tersebut dengan melakukan gerakan ekonomi. Pemprov Jatim telah melakukan berbagai upaya agar pertumbuhan ekonomi Jawa Timur tetap tumbuh meski Indonesia sempat mengalami krisis,” ujarnya.
Selain Menpora dan Gubernur Jatim, pelantikan PCK PMII Jatim juga dihadiri oleh Ketua Ikatan Alumni PMII Jatim Mujahid Ansori, Ketua Pengurus Besar (PB) PMII Aminuddin Makruf dan Salah satu pendiri PMII, KH Nuril Huda. Sebanyak 2000 kader PMII dari seluruh cabang kabupaten/kota hadir meramaikan Pelantikan yang dirangkai dengan Halaqah Akbar Ikatan Alumni PMII.(Lukman Hakim/Poy)

Mapaba PMII Kutim Banyak Peminat

Seperti rutinitas pada tiap-tiap tahun ajaran baru sebelumnya, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Kutai Timur (Kutim) mengadakan Penerimaan Anggota Baru, yang dilaksanakan pada tanggal 26-28 Agustus 2016 bertempat di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Al-Ma’arif, Jl. Pendidikan Sangatta Utara.

Kegiatan yang dinamai dengan Masa Penerimaan Anggota Baru (MAPABA) ini diikuti oleh sekira 80 orang yang ke semuanya merupakan mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Sangatta Kutim. Dalam rangkaian kegiatannya, MAPABA diisi dengan berbagai kegiatan dan penyampaian materi, diantaranya tentang ke-mahasiswa-an, ke-Indonesia-an, dan Ke-PMII-an.

Menurut Muhammad Nur, ketua panitia, MAPABA tersebut bertujuan untuk memperkenalkan PMII kepada para mahasiswa baru sekaligus menjadi pintu gerbang bagi yang ingin menjadi anggota PMII. “Dari sekira 100 yang mendaftar, 80 orang yang mengikuti MAPABA ini nantinya akan “digembleng” selama 3 hari. Di situ, para peserta akan diajak untuk mengikuti rangkaian kegiatan, mulai dari sholat malam, sholat 5 waktu, senam, dan penyampaian materi, ucapnya. Nur, panggilan akrabnya juga menambahkan bahwa MAPABA tersebut diharapkan bisa membekali anggota baru untuk betul-betul menjadi anggota PMII yang militan. Saat ditanyain kedua puluh pendaftar yang batal ikut, Nur mengatakan kedua puluh pendaftar tersebut tidak bisa ikut karena berbenturan dengan pekerjaannya. (Baca juga: Refleksi Kemerdekaan, PMII Soroti Pembangunan Kutim)

Untuk sekedar diketahui, rangkaian MAPABA ini merupakan kegiatan kaderisasi yang dikemas dengan nuansa religi, ilmiah dan santai. Lalu, salah satu peserta MAPABA mengaku cukup senang mengikuti kegiatan tersebut. Menurutnya, dia merasa banyak tambah teman dan mengetahui banyak hal yang sebelumnya belum pernah diketahui. “saya dan sahabat-sahabat cukup senang dan bangga setelah bergabung dengan PMII. Ada suasana baru dan keakraban yang begitu hangat yang kami rasakan di MAPABA ini, ujarnya dengan semangat.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, MAPABA kali ini dilaksanakan oleh pengurus rayon tarbiyah dan pengurus rayon syariah Komisariat PMII STAIS Kutim. Suci Nastiti selaku Ketua Umum Cabang PMII Kutim mengapresiasi kemandirian pengurus rayon dan komisariat yang mengadakan MAPABA secara mandiri. “Saya cukup bangga dan senang atas kemandirian sahabat-sahabat yang dengan jerih payah bisa melakukan MAPABA secara mandiri. Mudah-mudahan hal ini tetap berlanjut ke depan dan menjadi lebih baik lagi. Penting untuk di ketahui oleh para anggota baru, bahwa MAPABA ini hanya kulitnya saja, enam bulan ke depan kalau anda benar-benar serius ber PMII maka anda baru bisa disebut kader kalau anda sudah mengikuti PKD”, ujar Cici dalam sambutannya saat penutupan acara.***mchtr



Refleksi Kemerdekaan, PMII Menilai Belum Merdeka Sepenuhnya


Dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia ke 71, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Kutai Timur (Kutim) melakukan aksi damai turun ke jalan. Aksi tersebut dimaksudkan untuk menyampaikan aspirasi yang bertempat di simpang empat patung singa jalan Bontang-Sangatta pada Minggu (28/8).

Aksi damai diawali dengan beriringan mengendarai sepeda motor sembari mengibarkankan bendera dari Sekolah Menengah Pertama (SMP) Ma’arif Jl Pendidikan dan berhenti di simpang empat patung singa bontang. Peserta aksi sebanyak 130 orang yang tergabung dalam PMII tersebut berkumpul di bundaran patung singa, ada yang membentangkan spanduk dan poster bertuliskan beberapa persoalan yang disoroti kemudian sebagian lagi berorasi secara bergantian dari pukul 15.30 sampai 17.00 wita.

Persoalan yang disoroti antara lain masalah ketimpangan pendidikan, perekonomian yang belum merata dan pembangunan infrastruktur yang kurang maksimal. Menurut Cici, Ketua Umum PMII Cabang Kutim menuturkan Indonesia selama 71 tahun sampai saat ini baru merdeka dari penjajah atau peperangan senjata, tapi belum merdeka dari beberapa persoalan. “Sahabat tahu, Kutim merupakan Kabupaten cukup kaya, tapi apa yang terjadi, jalan masih banyak yang lobang, pendidikan tidak merata, masih adanya kekurangan guru di pelosok, dan ketimpangan pembangunan pendidikan yang tajam serta masih adanya warga miskin di kabupaten penghasil batu bara ini”, ucapnya saat orasi.

Senada dengan Cici, Abdul Manab sebagai koordinator lapangan dalam aksi tersebut menuturkan bahwa kegiatan tersebut dimaksudkan untuk merefleksi kemerdekaan Indonesia yang belum sepenuhnya merdeka. Dia berharap dengan adanya aksi tersebut bisa membuka mata hati para pejabat pemerintah di Kutim sebagai pengambil kebijakan untuk serius dalam melakuakan pembangunan khususnya di sektor pendidikan dan ekonomi. “Harapan saya pemerintah Kutim lebih serius lagi dalam melakukan pembangunan di sektor pendidikan dan pemerataan ekonomi. Sungguh mmiris melihat pendidikan kita yang tidak adil dan merata, untuk itu dengan ini mudah-mudahan kita semua terbuka dan peduli untuk bersama-sama membangun Kutim yang lebih baik”, ujar laki-laki asal Sandaran tersebut.

Setelah sekira satu jam tigapuluh menit berorasi, kemudian peserta aksi membaca sholawat bersama-sama kemudian ditutup dengan doa bersama. Dalam doanya, Abdul Azis yang memimpin doa tersebut berharap Kutim dijauhkan dari bala dan rakyatnya lebih sejahtera.***mchtr

PMII dan Kesetiaan terhadap Pancasila


Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia merupakan suatu organisasi kader yang di dalamnya diisi para mahasiswa Muslim yang landasan teologinya Ahlusunnah wal Jama’ah (Aswaja). Selain menggunakan paham Aswaja, PMII juga menetapkan Pancasila sebagai asas organisasinya. Pancasila diyakini sebagai suatu komitmen bersama the founding fathers bangsa Indonesia yang harus tetap terjaga keutuhannya sebagai dasar Negara. Karena PMII merupakan organisasi kepemudaan yang lahir di bumi Pancasila, maka PMII pun wajib membela dan mempertahankan Pancasila sebagai dasar Negara Indonesia yang mampu menyatukan seluruh rakyat Indonesia di tengah kemajemukan dan kepluralan masyarakat Indonesia.

Jika kita kembali pada sejarah lahirnya Pancasila, sebelum Pancasila ditetapkan sebagai landasan atau dasar Negara, berbagai benturan pandangan terjadi. Dalam sidang BPUPKI misalnya, peserta sidang terbagi menjadi dua kelompok besar, yaitu kalangan nasionalis dan kalangan agamis. Kedua kelompok ini masing-masing memiliki pandangan berbeda terhadap gagasan Soekarno yang menawarkan Pancasila sebagai ideologi Negara. Yang paling menonjol dalam perdebatan tersebut adalah terkait apakah Negara Indonesia akan menjadi negara sekuler atau negara agama. Namun di tengah perdebatan panjang diambilah suatu kesepakatan bersama, bahwa Indonesia dengan Pancasilanya bukanlah negara sekuler dan juga bukan negara agama. Dari kesepakatan ini dapat diambil suatu kesimpulan bahwa Indonesia adalah Negara Pancasila.

Sungguh menakjubkan, ide pemikiran politik yang terkandung di dalam Pancasila merupakan ramuan sempurna dan solutif. Para pendiri Negara mampu meramunya dengan sangat kreatif, dengan mengambil jalan tengah antara dua pilihan ekstrem, Negara sekuler atau negara agama. Mereka menyusunnya dengan rumusan yang begitu imajinatif di mana negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa. Coba bandingkan dengan Turki, di mana saat mencari jalan keluar dari kemerosotan Dinasti Utsmani yang berkuasa selama hampir delapan abad, akhirnya memilih negara sekuler yang ditandai dengan runtuhnya kekhalifahan pada Maret 1924. Turki pun menjadi negara sekuler pertama di tengah masyarakat Muslim.

Begitu pun di Pakistan. Negeri yang berdiri di atas bekas wilayah Dinasti Mogul itu, dari dua arus pemikiran politik yang bersaing saat menuju kemerdekaan, antara Ali Jinnah sebagai representasi gagasan negara sekuler dan Maududi sebagai representasi gagasan negara agama, toh akhirnya memilih jalan sebagai Negara Islam, setelah gagal mensenyawakan format yang solutif untuk sebuah dasar negara modern.
Pancasila, sebagai jalan tengah antara dua pemikran apakah Indonesia sebagai negara sekuler atau negara agama. Inilah konsensus bersama para pendiri bangsa saat menetapkan dasar atau ideologi Negara Indonesia. Kesepakatan yang mampu menyatukan pendapat dua kelompok baik kelompok nasionalis dan keslaompok agamis. Tidak ada satu pun kelompok yang dikecewakan dengan ditetapkannya Pancasila sebagai ideologi Negara.

Itulah sedikit petikan sejarah pergulatan tentang penetapan Pancasila sebagai ideologi Negara. PMII sebagai organisasi kepemudaan yang tidak bisa terlepas dari sejarah Indonesia tentu harus wajib mempertahankan Pancasila. Apalagi melihat realitas sekarang Pancasila begitu dikerdilkan bahkan terlupakan. Meski tak dapat dipungkiri trauma Orde Baru masih ada dalam bayang-bayang di segenap pemikiran rakyat Indonesia bagaimana Pancasila begitu ditegakkan dan dimasyarakatkan tetapi berdasarkan pengertian penguasa kala itu sehingga hanya dijadikan alat untuk memperthankan kekuasaan. Tetapi bukan karena itu kemudian kita meninggalkan Pancasila, karena Pancila adalah kesepakatan, komitmen dan konsensus bersama pendiri bangsa kita yang mampu menyatukan beragam pemikiran pendiri bangsa Indonesia sehingga Indonesia tetap kokoh sampai hari ini.

Setelah terbukanya kran demokrasi yang ditandai dengan reformasi, saat inilah kebebaasan begitu diagung-agungkan sehingga kebebasan pun mulai kebablasan, Pancasila mulai digoyang kembali oleh beberapa pemikiran ideology baik dari liberalism dan kapitalisme ataupun sosialisme-komunisme serta ideology islam radikal. Pancasila sudah dimasuki dengan neoliberalisme, sehingga kebijakan pemerintah pun terkadang lebih condong dari dasar neoliberalisme dari pada Pancsila itu sendiri. Begitupun ideologi Islam radikal, yang mulai tumbuh subur bak jamur di musim hujan. Teroris di mana-mana, tindakan kekerasan atas nama Islam merajalela dan penanaman pemikiran Islam yang tekstual dan inkontekstual yang begitu jauh dari semangat dan nilai-nilai Pancasila.

PMII dengan pemikiran Pancasilais dan nasionalisnya harus melawan pemikiran neoliberalisme yang merongrong bangsa Indonesia, begitupun dengan Islam radikal. PMII harus kembali membumikan Islam Indonesia di bumi Nusantara. Begitulah yang dikehendaki Pancasila dan para pendiri bangsa kita. Harus tetap menjaga orisinalitas bangsa di tanah air kita, jangan sampai terongrong oleh ideologi-ideologi yang begitu bertentangan dengan Pancasila. Pancasila lah pemersatu bangsa, Pancasila lah yang menjaga keutuhan NKRI, ini lah warisan luhur kita yang harus tetap kita jaga dan pertahankan sebagai ideologi Negara.

Ketika Pancasila sudah terganti oleh ideologi-ideologi lain, maka NKRI bubar, perjuangan para pahlawan dan the founding fathers kita untuk memerdekakan dan membentuk bangsa dan negara ini sia-sia. Kita sebagai kader PMII yang berasaskan Pancasila tentu tidak mau hal itu sampai terjadi. Pancasila dan NKRI adalah Final.

Oleh Falihin Barakati
Penulis adalah Wakil Ketua PKC Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Sulawesi Tenggara

PMII Komisariat STAI Sangatta Kembali Gelar Bimbingan Tes Intensif (BTI)

PMII KUTIM-Sudah menjadi rutinitas sejak tiga tahun terakhir, tahun ini Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) melalui Pengurus Komisariat kembali menggelar Bimbingan Tes Intenseif (BTI) bagi calon mahasiswa baru Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Sangatta. Kegiatan yang berlansung selama dua hari tersebut sukses dilaksanakan pada hari Sabtu sampai Minggu (16-17/7).

Kegiatan tersebut bertujuan memberikan  pengarahan secara lansung bagi calon Mahasiswa/i dalam   persiapan menuju seleksi penerimaan mahasiswa baru di STAI Sangatta Kutai Timur.

Dalam keterangannya ,Rafiko, selaku Ketua Komisariat menerangkan bahwa kegiatan  tersebut akan efektif bagi peserta BTI."Kegiatan ini sangat efektif, apa lagi di BTI ini sangat berguna bagi para peserta sebagai modal awal mereka untuk masuk di STAI Sangatta. Bimbingan yang kami berikan berupa tes baca al-Qur'an, tes kepribadian, dll". Terang pria yang merupakan mahasiwa semester 6 (enam) di STAI Sangatta tersebut.

Saat ditemui salah seorang peserta mengaku senang dengan adanya kegiatan tersebut."Menurut saya BTI ini bisa mempermudah saya masuk ke STAIS, karena materi yang dijarkan sebelumnya nanti kemungkinan akan muncul pas tes " ungkap wanita bernama Mulia Hardianti tersebut. "BTI ini kesannya asik, pelajaran yang kemarin sempat berhenti dipelajari (waktuSMA) kmbli teringat lagi.
BTI ini sangat membantu." tambahnya.

Kegiatan yang berlansung d gedung LDNU Kutai Timur tersebut sukses diikuti 64 (enam puluh empat) orang peserta. Pasalnya gelaran tahun ini merupakan yang paling banyak menggaet peserta dibanding pelaksanaan tahun sebelumnya, ini tidak lain dikarenakan kesuksesan PMII meluluskan kader BTI mereka 99 % sejak mulai digelar tahun 2013 lalu.

Pada sesi penutupan kegiatan, dalam sambutannya Abdul Rahman selaku Ketua Panitia mengiringi kepulangan peserta dengan doa semoga peserta BTI bisa lulus 100% dengan nilai yang memuaskan.

Penutupan BTI juga dirangkai dengan Halal bi Halal yang dihadiri oleh Suci Nastiti selaku Ketua Umum PMII Cabang  Kutai Timur beserta jajarannya, dan segenap Alumni PMII Kutai Timur. (#Jenwid)

Hindari Investasi Asing, PB PMII Nilai Pentingnya Kawal UU Tax Amnesty




JAKARTA – Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) menilai pentingnya peran serta masyarakat, dalam memantau implementasi Undang-Undang Tax Amnesty.

Hal tersebut disampaikan Huda Kalimullah, Bidang Ekonomi PB PMII di Jakarta, Rabu (13/7). Menurutnya, realisasi tax amnesty dapat dimanfaatkan untuk menghindarkan Indonesia dari investasi asing.

“Karena dalam hal ini, pemerintah sudah beritikat baik agar perekonomian Indonesia lebih sejahtera dan bisa mandiri dari investasi asing,” ujarnya.

Menurut Huda, ditariknya uang pengusaha yang ditanam di luar negeri melalui pengampunan pajak (tax amnesty), akan memberikan efek berupa peningkatan ekonomi negara. Karena dengan begitu, fokus perputaran uang pengusaha Indonesia akan terjadi di dalam negeri, yang tentunya bermanfaat untuk masyarakat luas.

“Harapan itu disambut hangat para legislator dengan disahkannya menjadi Undang-Undang Tax Amnesty 28 Juni kemarin. Cara ini bisa mengurangi tingkat pengangguran dan bisa berdampak positif terhadap pasar keuangan Indonesia di tengah pelemahan ekonomi global,” terangnya.

Meski demikian Huda menyadari, masih terdapat pihak yang menyayangkan disahkannya Undang-Undang Tax Amnesty. Yayasan Satu Keadilan dan Serikat Perjuangan Rakyat Indonesia misalnya. Mereka telah resmi mendaftarkan uji materi Undang-Undang Tax Amnesty ke Mahkamah Konstitusi, yang dianggap melegalkan praktik pencucian uang para pengemplang pajak.(Poy)

Islam Nusantara Solusi Permasalahan Dunia


JAKARTA – Konferensi Internasional para Pemimpin Islam Dunia atau ISOMIL (International Summit of the Moderate Islamic Leaders) secara resmi dibuka pekan lalu, (09/05) oleh Wakil Presiden Republik Indonesia, Jusuf Kalla, di Jakarta Convention Center (JCC).

“Para pemimpin Islam harus duduk bersama bersatu untuk memikirkan berbagai macam persoalan dunia,” ungkap Kalla dalam pidato pembukaan.

Menurutnya forum konferensi ini harus dijadikan tempat berdiskusi dan berfikir para tokoh Islam dunia untuk menghentikan berbagai macam konflik.

“Meskipun demikian, para pemimpin Islam dunia jangan hanya duduk berdiskusi dalam konferensi akan tetapi juga turun ke masyarakat untuk mencari akar konflik yang ada.” imbuhnya lagi.

Jusuf Kalla juga menyinggung berbagai macam peristiwa teror yang ada di beberapa negara Eropa seperti Prancis dan Belgia merupakan hasil dari pemahaman agama yang tidak menyeluruh. Teror-teror tersebut kebanyakan dilakukan oleh anak muda yang haus akan pemahaman agama dan mendapatkan pemahaman yang keliru.

“Negara-negara lain bisa mencontoh pemahaman agama Islam di Indonesia yang bisa beradaptasi dengan nilai-nilai lokal”. ucapnya lagi.

Di sisi lain, Ketua Umum PBNU, KH. Said Aqil Siradj menjelaskan, bahwa pemahaman Islam yang kokoh, membawa pesan damai itu merupakan sebagian dari ciri Islam Nusantara.

“Praktek keislaman yang dilakukan oleh umat muslim di Indonesia selama berpuluh abad lamanya dan membawa kedamaian untuk bangsa ini sudah saatnya untuk diekspor kenegara lain, khususnya Timur Tengah yang selama ini masih terus menerus dalam konflik,” Ujarnya.

Islam Nusantara juga tidak pernah mempertentangkan antara Islam dan Nasionalisme. Bagi Nahdlatul Ulama (NU), Islam tidak pernah bertentangan dengan nasionalisme. Hal ini telah diajarkan oleh Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asyari, pendiri organisasi NU.

Seperti yang dikutip oleh Kiai Said Aqil, bahwa pendiri NU tersebut meyakini bahwa agama dan nasionalisme merupakan fondasi kokoh bagi setiap bangsa yang ingin maju, damai dan sejahtera. Disini dapat disimpulkan bahwa Indonesia bukanlah negara agama akan tetapi negara yang bergama.

“Hadratussyaikh Hasyim Asyari sudah mengajarkan kepada kita bahwa hubbul wathon minal iman yang berarti cinta tanah air bagian dari iman, pemahaman inilah yang tidak dimiliki oleh kebanyakan ulama Timur Tengah sehingga mereka terus dilanda konflik politik,” terangnya lagi.

Bagi Kiai Said Aqil, kompatibilitas agama dan nasionalisme inilah yang dia sebut sebagai salah satu ciri dari Islam Nusantara. “Konsep inilah yang dirumuskan oleh Kiai Hasyim Asyari”. Pungkasnya

Konferensi yang mengusung tema “Islam Nusantara; Inspirasi dan Solusi untuk peradaban dunia” ini dihadiri kurang lebih dari 400 delegasi yang berasal dari 33 negara dan tiga hari, yakni 09 sampai 11 Mei.(*/Poy)

Menumbuhkan Kecintaan Budaya Lokal Kepada Mahasiswa Melalui Simposium Kebudayaan


Meskipun Hari Lahir Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) ke-56 sudah lewat satu bulan yang lalu yakni 17 April 2016. Namun rangkaian acara guna memeriahkan agenda tahunan ini baru selesai dilaksanakan oleh Pengurus Cabang PMII Kutai Timur malam tadi (16/5).

Simposium Kebudayaan bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Kutai Timur sekaligus menjadi penutup rangkaian acara perayaan Harlah PMII yang ke 56 yang dilaksanakan oleh PC PMII Kutai Timur. Acara ini dilaksanakan di Gedung LDNU Kutai Timur pada malam Senin 16 Mei 2016. Acara ini pula sekaligus menjadi penutupan kegiatan Sekolah Islam Gender (SIG) Se-Kalimantan Timur yang telah dilaksanakan dari 13-16 Mei 2016.

Kegiatan yang mengupas tema "Penguatan Budaya Lokal Sebagai Sub Kebudayaan Nusantara" ini menghadirkan pemateri dari Dinas Pendidikan bapak Ilham, M.Pd selaku kasi perfilman dan kesenian dan bapak Budi selaku praktisi Kebudayaan dari Dinas Pemuda dan Olahraga Kutai Timur serta dipandu oleh sahabat Zulhamri sebagai moderator. Sahabat Zainul Kurnain selaku Ketua Panitia perayaan Harlah PMII ke 56 dalam laporanya menyampaikan "Kegiatan pada malam hari ini merupakan titik puncak dari beberapa kegiatan yang telah dilaksanakan oleh PMII Kutai Timur untuk meraimakan Harlah PMII yang ke 56. Terimakasih untuk seluruh panitia yang telah bekerja keras dan cerdas untuk suksesi berbagai acara yang telah dilaksanakan. Terimakasih pula atas segenap bantuan moril dan materil dari sahabat-sahabat senior dan donatur sekalian yang tidak bisa saya sampaiakan satu persatu". Dalam kesempatan tersebut nampak hadir pula Sekretaris DPD KNPI yang ikut memberikan sambutan, undngan dari beberapa organisasi kemahasiswaan, banom NU dan undangan dari Siswa-siswi SMA serta peserta SIG se-Kalimantan Timur.

Ketua Umum PC PMII Kutai Timur, Sahabati Suci Nastiti "Kebudayaan di Kutai Timur ini sangat banyak, namun tidak terlihat dan kurang mendapat perhatian dari pemerintah. Saya berharap ada output yang bisa didapatkan dari acara ini guna membangkitkan budaya di Kutai Timur agar mampu bersaing dengan Budaya Nasional". Raut kelelahan nampak pada wajah seluruh panitia yang mempersiapkan segala sesuatu demi suksesi kegiatan yang cukup padat ini. Namun tidak mnyurutkan semangat untuk bersama-sama mengikuti acara simposium sekaligus penutupan SIG se-Kalimantan Timur dan Harlah PMII ke 56. Sahabat Sahabat Abdurrahman salah satu peserta SIG sekaligus panitia pelaksana Harlah mengatakan "saya sampai harus libur kerja beberapa kali untuk mensukseskan berbagai acara ini. Tapi saya senang dan tidak menyesal karena justru banyak hal positif yang bisa saya dapatkan dengan ikut aktif dan berpartisipasi".

PMII Kutim adakan SIG Se-Kalimantan Timur





Sekolah Islam Gender  (SIG) yang menjadi salah satu program kerja Korps PMII Putri Kutai Timur dilaksanakan pada 13 sampai 16 Mei 2016 bertempat di pesantren Hubbul Wathon, Sangatta Selatan Kutai Timur.


Peserta kegiatan tidak dikhususkan untuk anggota dan kader PMII perempuan namun juga laki-laki. Kegiatan ini dihadiri pula dari perwakilan peserta Cabang Samarinda dan Kutai Kartanegara. Dari cabang Samarinda mewakilkan 4 orang yaitu 1 orang sahabat dan 3 sahabati kemudian untuk cabang Kutai Kartanegara mengirimkan wakil 2 sahabati.

Ketua Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (KOPRI) cabang Kutai Timur, sahabati Mahmudah mngatakan "kegiatan SIG se Kalimantan Timur ini sudah disusun cukup lama dan mengalami beberapa waktu kemunduran hingga alhamdulillah mampu kami dari PMII cabang Sangatta pada saat ini". Berbagai macam materi berkaitan dengan Islam dan Gender yang telah dituangkan serta diberikan oleh pemateri-pemateri yang capable di bidangnya. Pemateri sebagian besar merupakan dosen, dan beberapa diantaranya merupakan tokoh aktifis gender, seperti Prof. Dr. Hj. Siti Muri'ah yang meluangkan waktunya jauh-jauh dari Samarinda untuk mengisi di kegiatan SIG se-Kalimantan Timur ini.

Sahabat-sahabati diajak berfikir kritis dan transformatif oleh panitia pelaksana. Hal ini dimaksudkan agar tujuan kegiatan ini tidak hanya sekedar angin lalu ketika telah selesai, namun diharapkan mampu memberikan terobosan-terobosan baru terhadap isu kekinian yang biaa menjadi solusi atas permasalahan sosial terutama berkaitan dengan gender. Sahabat Irul salah satu peserta yang mewakili dari Cabang Samarinda mnyampaikan "kegiatan ini sangat baik dan saya sangat senang, tidak hanya karena saya menemukan sahabat-sahabat baru namun dengan mengikuti SIG ini saya mendapatkan jawaban atas diskusi-diskusi tentang gender yang selama ini masih mentok belum pada kesimpulan yang ada ditempat saya".

Pelantikan Rayon dan Komisariat PMII Kutim Masa Khidmat 2016/2017

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Cabang Kutai Timur dalam rangka melaksanakan kaderisasi organisasi di tingkat kepengurusan rayon dan komisariat setelah terlaksananya Rapat Tahunan Akhir Rayon (RTAR) dan Rapat Tahunan Akhir Komisariat (RTAK) pada waktu sebelumnya. Kini melaksanakan pelantikan untuk kepengurusan yang rayon dan komisariat yang baru.

Kegiatan pelantikan pengurus Rayon Ki Ageng Tunggang Parangan Tarbiyah STAI Sangatta, Rayon Orbit Syari'ah STAI Sangatta dan Komisariat STAI Sangatta masa khidmat 2016-2017 ini dilaksanakan pada 5 Mei 2016 bertempat di Gedung LDNU Kab Kutai Timur. Acara berlansung dengan lancar dan Khidmat dimulai bakda isya sekitar pukul 8 malam dengan dihadiri pengurus rayon dan komisariat yang akan dilantik serta pengurus cabang dan beberapa undangan dari alumni PMII Kutai Timur.

Sekretaris Umum PC PMII Kutai Timur, Sahabat Nur Muhabibudin dalam sambutanya mewakili Ketua Umum mengatakan "Selamat kepada kepengurusan yang baru saja dilantik,harapan saya dan pengurus cabang sekiranya pengurus rayon dan komisariat yang baru mampu memaksimalkan kegiatan-kegiatan terutama kegiatan kaderisasi". Ketua 1 pengurus cabang PMII Kutai Timur Sahabat Zulkadrin memandu pelantikan kepengurusan rayon dan komisariat sementara itu Ketua 2 pengurus cabang Sahabat Abdul Manab membacakan Surat Keputusan PC PMII Kutai Timur Kepengurusan rayon dan Komisariat masa khidmat 2016-2017. "Ketua Rayon KTP tarbiyah, Orbit Syariah dan Komisariat untuk segera mnyusun rencana program kerja kepengurusan masing-masing selama satu tahun kedepan, kalau bisa berbarengan saja supaya dapat mensinergiskan program masing-masing dan tidak ada benturan kegiatan", tambah Nur Muhabibudin.

Setelah prosesi pelantikan dan penandatanganan berita acara serah terima dari kepengurusan lama kepada kepengurusan baru dilanjutkan dengan Pidato perdana yang disampaikan oleh masing-Masing Ketua yang baru dilantik. Nampak canggung sahabat-sahabat ketua pengurus Rayon dan komisariat yang baru dilantik saat melakukan pidato perdananya. Kepengurusan Rayon Ki Ageng Tunggang Parangan (KTP) Tarbiyah masa khidmat 2016-2017 diketuai sahabat Peri Sandria dan sahabati Triyani sebagai sekretaris. Rayon Orbit Syari'ah diketuai sahabat Abdurahman dan sahabati Fitri Zulaiha sebagai sekretaris rayon. Sementara untuk kepengurusan Komisariat STAI Sangatta diketuai sahabat Rafiko dan sahabati Meriati sebagai sekretaris.