PMII Kembali Sholat

Merenungi Keadaan dan Kembali ke Tujuan Organisasi

Pentingnya Pendidikan Politik Sejak Dini

Contoh Kegiatan Politik Yang Tidak Mendidik

PMII Kutai Timur Gelar Konfercab

Konfercab PMII Cabang Kutai Timur

Sosok Kartini Masa Kini Telah Pergi

Sosok Inspirasi Pemudi Masa Kini

Noda Hitam Pesta Demokrasi

Pesta Lima Tahunan Yang Harus Dikawal Bersama

ABJAD PMII - PELANTIKAN PKC KALTIM 2015

Masyarakat Indonesia di Tengah Isu-isu Dunia




Beberapa bulan belakangan, banyak isu yang menjadi sorotan masyarakat indonesia berasal dari atau berhubungan dengan luar negeri. Sebut saja kisah pertemuan beberapa anggota DPR RI dengan salah satu calon presiden amerikat serikat, tragedy crane dan mina yang menimpa Jemaah haji di arab Saudi, Malaysia dan singapura yang merasa terganggu dengan asap Indonesia, perang di suriah yang melibatkan banyak Negara dan kelompok, gelombang pengungsi rohingya yang terombang ambing di lautan Indonesia, pengungsi suriah yang bergerak ke dataran eropa, dan masih banyak contoh kejadian lainnya.

Bila kita telaah lagi, sejatinya bukan hanya terbatas pada kejadian-kejadian di luar negeri saja yang menjadi perhatian kita belakangan ini. Akan tetapi juga pemikiran sampai ideology dari manca Negara sudah menjadi konsen masyarakat Indonesia. Kita bisa ingat ideology yang di usung ISIS pernah dan masih meresahkan kita, lalu bagaimana masyarakat juga konsen dengan syi’ah, suni dan wahabi. Bahkan pernah juga muncul tokoh-tokoh Negara lain tiba-tiba menjadi idola masyarakat indonesia. 

Beberapa saat yang lalu presiden turkey dan raja arab bahkan menjadi pujaan beberapa kalangan di Indonesia. Lebih kebelakang lagi presiden iran Ahmadinejad dan obama juga pernah jadi figure popular. Ternyata kini masyarakat Indonesia tidak hanya membahas dan konsen dalam urusan local dan nasional saja. Akan tetapi juga mulai ingin tahu, atau bahasa anak muda sekarang “kepo” dengan isu-isu lintas Negara. Ramalan tentang dunia akan menjadi seperti sebuah kampong kecil kini sepertinya telah terjadi. Apa dan bagaimana sesuatu terjadi di belahan bumi lainnya kini seperti terjadi di sudut lain kampung kita. Akan menjadi perbincangan dan perhatian serius kita.

Namun ke-ingin tahu-an masyarakat Indonesia jarang di barengi dengan pemahaman dan kemampuan yang mumpuni dalam menelaah dan meyikapi isu-isu tersebut. Banyak orang bahkan menjadi korban isu serta berita sesat dan meyesatkan. Kurang mengerti dengan bahasa asing menjadikan kita menerima kabar tidak dari sumber aslinya. Melainkan dari sumber-sumber kedua, ketiga dan seterusnya yang menterjemahkan ke dalam bahasa yang kita pahami. Tanpa tahu bahwa hal itu sangat rawan dengan penyimpangan dan penafsiran yang jauh melenceng dari berita aslinya. 

Belum lagi kalau sumber utamanyapun sarat akan kepentingan kelompok-kelompok tertentu. Sehingga menyajikan dengan tidak seimbang bahkan mungkin tidak benar. Guna mencari simpati dan pembelaan dari para penyimak. Parahnya masyarakat kita adalah masyarakat yang unik, unik karena kita mudah bersimpati, mudah percaya, mudah membenci dan mudah pula lupa. Sehingga di tengah simpang siurnya berita dan opini yang sangat kompleks tersebut kita seakan-akan terombang ambing tak tentu arah. Terkadang kita membela si-A dan tak suka si-B, tapi terkadang kebalikannya. Dan esok hari kita sama-sama mendukung keduanya untuk melawan si-C. padahal si-C dahulu adalah teman kita.

Sebuah konflik biasanya tidak sederhana, apalagi bila konflik tersebut melibatkan multi Negara. Tentu akan bertambah tingkat kompleksitasnya. Mulai dari kepentingan politik, sejarah, ekonomi, militer sampai ideology akan bersaling silang dalam konflik tersebut. Sangking ruwetnya akan terlihat sangat membingungkan bagi orang yang tak paham betul permasalahannya. Sehingga memilih “taklid buta” kepada sumber yang ia merasa tak akan pernah berdusta. Tanpa sekalipun mengkritisi yang sumber tersebut sampaikan.

Kondisi demikian sangatlah merugikan bangsa Indonesia. Masyarakat jadi mudah terprovokasi dan terkotak-kotak. Sehingga sesame bangsa sendiri justru saling berkonflik. Bahkan dalam kadar tertentu meyebabkan disintegrasi bangsa. Sering kali kita melihat sesorang akan benar-benar membenci saudaranya sebangsa hanya karena berbeda sikap dalam sebuah konflik. Konflik tersebut bahakan tidak berhenti antar warga, namun juga sudah mengarah ke warga vs Negara. Negara dianggap tidak sepaham atau sependapat dengannya sehingga di cap sebagai musuh yang mergikannya. Hal demikian tentu sangat berbahaya bila terus terjadi.

Untuk itu, tentu sangat penting kita mulai membekali diri dengan kemampuan dan wawasan yang baik dalam menyikapi sebuah isu. Kita perlu meningkatkan daya kritis kita. Daya kritis akan membuat kita pandai menyaring informasi-informasi yang tidak benar atau benar namun bercampur dengan kedustaan. kita juga perlu membuka hati kita, dengan membuka hati kita tidak akan mudah percaya dan fanatic kepada satu pihak saja. 

Selain mendengar informasi dari satu pihak kita juga bisa menyimak informasi tersebut dari sisi pihak lainnya. Sehingga duduk permasalahan suatu konflik atau isu jelas dan terang benderang. Kita juga perlu memperluas wawasan kita. Bila kita mempunyai wawasan yang luas kita akan mudah memahami kemana arah suatu isu bergerak. Sehingga kita bisa memprediksi dan menerka apa sebenarnya di balik isu tersebut. Dengan wawasan yang luas kita juga bisa memetakan konflik dan isu tersebut serta memahami dimana kita harus memposisikan diri. Dan tentu saja kita harus pandai-pandai memilah milah sumber yang di rujuk. Dengan keterbatasan bahasa yang kita miliki sangat susah mencari informasi dari sumber aslinya. Sehingga kita harus merujuk ke sumber kedua dan seterusnya. Untuk itu kita harus memilih sumber rujukan yang benar-benar bisa di percaya. Hanya karena sumber tersebut seperti membela kepentingan kita, belum tentu sumber itu benar. Cari tau track recordnya dan pendapat orang lain tentang sumber tersebut.

Beberapa tips diatas tentu tidak 100% persen akan membuat kita pandai dan ahli dalam menyikapi isu internasional. Namun paling tidak kita akan lebih terjaga dari dusta yang kerap di taburkan di sana-sini mengiringi berita-berita di media.

Agama dan Mie Instan


Pagi ini saya sarapan sarimi rasa pecel. Saya masak sendiri, karen saya suka masak sendiri untuk urusan mie instan.

Sambil masak saya berfikir, mie rasa pecel ini menurut saya terlalu jauh dari pecel asli. Tak ada sayur mayurnya, bahkan sambel pecelnya pun tidak ada.

Yang membuat sedikit nyerempet dengan pecel mungkin karena adanya rasa-rasa kacang di minyak sayurnya. Itupun saya masih ragu, apakah benar itu dari kacang asli atau bukan.

Semua mie instan rasa apa saja demikian kejadiannya. Rasa bakso gak ada pentolnya, rasa soto ayam gak ada ayamnya, rasa iga bakar gak ada iganya, dan seterusnya. Namun bagi penikmat mie, kita cukup puas meskipun hanya rasa yang mendekati asli. Tapi subtansinya sama sekali jauh panggang dari api.

Fenomena tersebut ternyata terjadi juga dalam agama. Banyak sekali yang menawarkan beragama hanya pada taraf rasa saja. Tapi subtansinya tetap jauh dari agama. dalam banyak hal penawaran-penawaran tersebut justru mengkebiri hal-hal yang substansial dalam beragama. sebagai contoh, bagaimana Nabi Muhammad dengan tegas mengatakan :

إنما بعثت لأتم صالح الاخلق

"Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang sholeh". (HR: Bukhari dalam shahih Bukhari kitab Adab, Baihaqi dalam kitab Syu’bil Iman dan Hakim).

Namun justeru akhlaq yang terpuji banyak diumbar sebagian yang membawa panji-panji Islam. Kebiasaan memfitnah, mencaci yang tak sepaham, mengutuk bahkan mengkafirkan saudara muslim yang tidak sama pendapatnya. Benar mereka berpenampilan Islami, namun substansi perilakunya jauh dari islam yang di kehendaki Nabi Muhammad.

Maka marilah kita mencari Islam yang tidak pada taraf rasa saja. Kita laksanakan Islam secara menyeluruh. baik penampilan, pemikiran, perasaan, lebih-lebih perilaku.

Mengenang Mahbub, Adalah Membaca Tubuh Perempuan

Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari. (Pramoediya Ananta Toer)

Mengulas tentang Mahbub Djunaidi tidak akan pernah ada habisnya. Membedah pribadi seorang Mahbub seperti mengulas seorang perempuan, tidak pernah selesai dan tak pernah jemu untuk membahasnya. Teringat kalimat Putu Wijaya, Kata Orang Wanita Kan Sebuah Buku Yang Tidak Pernah Habis Dibaca! Begitulah kira-kira mengenang sosok Mahbub. Tulisannya yang bertebaran rapi di berbagai media, menjadikannya sangat pantas menyemat predikat Sang Pendekar Pena.

Mahbub benar-benar paham bahwa menulis adalah bekerja untuk keabadian. Menulis seolah menjadi aktivitas penting dalam hidupnya. Coba saja telisik kehidupannya. Ia mencintai dunia tulis menulis sebaik ia mencintai dunia keorganisasian. Tidak salah kalau kemudian dirinya disebut sebagai pribadi yang multitalenta. Kecerdasan yang hanya dimiliki oleh orang-orang pilihan.

Orang-orang pilihan tentu tidak hanya karena faktor keturunan. Faktor gen sudah tidak bisa disangkal bahwa Mahbub lahir dari tokoh NU yang sangat berpengaruh, H. Djunaidi, yang juga anggota DPR hasil Pemilu 1955. Tetapi ada faktor lain yang membuat Mahbub termasuk dalam golongan orang-orang pilihan. Faktor lain itu adalah karena ia memiliki harapan dan cita-cita yang besar.

Meminjam bahasa Haruki Murakami, ketika dianugerahi harapan, orang menggunakannya sebagai bahan bakar dan tujuan untuk menjalani hidup. Tanpa harapan, manusia tidak bisa bertahan hidup. Harapan adalah titik yang menjadi pemantik lahirnya perjuangan. Ketika seorang anak manusia sudah mulai kehilangan harapan, ia seperti seonggok tubuh yang tidak lebih dari mayat yang berjalan. Kehadirannya sama saja dengan ketiadaannya.

Harapan dan cita-cita besarlah yang menjadikan Mahbub terus memupuk eksistensi dirinya. Menciptakan eksistensi diri, begitu kira-kira semangat yang ingin disuntikkan pada kader PMII Kota Malang oleh Muhammad Romdlon saat peringatan Haul Mahbub Djunaidi ke 20, oleh PC PMII Kota Malang. Sahabat Romdlon mengambil benang merah dari kehidupan seorang Mahbub bahwa eksistensi diri sangatlah penting. Perbedaan organisasi tidaklah menjadi prioritas utama, melainkan eksistensi diri lah yang menentukan bagaimana seseorang memiliki nilai.

Jika diselami lebih dalam, seolah sahabat Romdlon ingin mengatakan bahwa menulis adalah bentuk lain bagaimana membentuk eksistensi diri. Mahbub telah membuktikannya. Kader terbaik PMII itu telah membuktikan kesaktian kalimat Pramoedya Ananta Toer, Menulis adalah bekerja untuk keabadian.

Mahbub bermetamorfosis menjadi sosok yang penting dalam tubuh PMII. Bersama organisasi pergerakan itu ia berada di garda terdepan untuk membela hak-hak rakyat kecil dan kaum lemah. Ia adalah sosok pribadi yang halus dan romantis melalui sajak dan karya cerpennya. Ia adalah sosok pribadi yang kritis mengamati kondisi sekitar dengan esai dan gagasan bentuk lainnya di kolom surat kabar.

Berbeda dengan sahabat Romdlon, Bang Berlian mengenang sosok Mahbub dengan senyum mempesona. Seolah tiba-tiba ia menjadi sosok penyair paling romantis di dunia. Sembari membuka bayangan tentangnya, Bang Berlian membacakan penggalan puisi Mahbub yang menurutnya paling bercahaya sejagat raya.

Pesta sudah usai 
Tapi pekerjaan belum selesai
 
Penggalan puisi itu bukan sembarang sajak yang hanya meramaikan warna dunia perpuisian. Bacalah sekali lagi penggalan puisi itu, Pesta Sudah Usai Tapi Pekerjaan Belum Selesai. Seperti Bang Ber, orang-orang yang memahami hakikat keindahan akan terpikat oleh penggalan puisi itu.

Seringkali tawa berderai setiap kali pesta sudah selesai digelar. Pembacaan teks proklamasi oleh Soekarno sebagai simbol kemerdekaan Indonesia adalah bentuk lain dari sebuah gelaran pesta. Semua orang yang berada pada titik nasib dan perjuangan yang sama beramai-ramai mengangkat bendera merah putih. Beberapa tahun setelahnya, upacara khidmat kemerdekaan digelar di mana-mana. Bulan Agustus sebagai rahim lahirnya kemerdekaan bahkan tidak pernah sepi dari nyanyian Indonesia Raya. Kita selalu riang setiap kali Pesta Sudah Usai, padahal Pekerjaan Belum Selesai.

Perkawinan diksi pada penggalan puisi itu seperti Thor yang sedang mengayunkan palunya. Memakai bahasanya Joustein Gaarder, Ketika dia mengayunkan palunya akan terdengar guntur dan halilintar. Ketika kita mau mendalami perkawinan diksi-diksi itu, seharusnya kita sadar bahwa ada pecutan kata-kata yang tersembunyi di balik penggalan puisi itu. Kandungan maknanya mengakar ke perut bumi Indonesia. Dahan dan reranting perjuangannya masih menjulang, menusuk hingga ufuk cakrawala.

Ketika Bang Berlian membacakannya pertama kali, penggalan puisi itu lebih mirip sajak-sajak biasa yang ditulis oleh kebanyakan anak remaja. Tetapi saat Bang Berlian mengulangnya untuk yang kali ketiga, ternyata penggalan puisi itu menyimpan semangat dan perjuangan seluruh umat manusia yang ingin keluar dan mendobrak pintu ketidakadilan dan ketertindasan. Semangat untuk keluar dari jurang kemiskinan. Semangat untuk bangkit dari kebodohan dan keterbelakangan.

Mahbub paham betul kalimat Pram, Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Mahbub juga mengerti bahwa ia tidak bisa hidup sepanjang seribu tahun. Tapi keinginannya untuk terus tetap hidup sama kuatnya dengan teriakan Khairil Anwar, Aku Ingin Hidup Seribu Tahun Lagi.

Ketika Khairil Anwar memiliki keinginan ingin hidup seribu tahun lagi, ia tidak mengatakannya dengan berteriak di tengah jalan, melakukan orasi di depan gedung DPR atau sambil membakar ban di depan istana presiden. Selain karena saat itu kondisi sosial politik tidak memungkinkan hal itu dilakukan, Khairil memilih sikap yang lebih elegan dan bijak. Ia berteriak melalui sajaknya. Sungguh pilihan sikap yang tepat dan luar biasa.

Sudah banyak tokoh-tokoh yang melakukan pembuktian bahwa peradaban bisa diciptakan dengan cara menuliskan setiap ide dan pemikiran. Ibnu Khaldun, Ibu Sina, Aristoteles, Plato, dan Einstein adalah sedikit dari ribuan tokoh besar lainnya yang mewariskan peradaban melalui tulisan. Itu adalah fakta yang tidak bisa ditolak. Ketika Baghdad menjadi tonggak peradaban muslim, mereka melakukan proses keilmuan yang sangat luar biasa. Berbagai buku berkualitas tinggi diterjemahkan dari peradaban India maupun Yunani.

Sejarah pencapaian peradaban itulah yang kemungkinan besar telah menjadi inspirasi Helvi Tiana Rosa. Ketika ia diwawancarai oleh salah satu stasiun televisi swasta, Helvy mengatakan, Semakin Banyak Penulis Yang Lahir, Maka Semakin Majulah Peradaban Bangsa Kita.

Ketika aplikasi microsoft office sudah lebih mudah masuk pada layar laptop dan smart phone, semestinya itu manjadi isyarat bahwa menulis adalah aktivitas yang semakin mudah dilakukan. Berbeda dengan belasan abad yang lalu, ketika para ilmuan dan ulama menulis di atas pelepah kurma. Sebuah keterbatasan yang sangat mengiris hati, tapi tidak menjadikan mereka patah arang untuk menuangkan ide dan keilmuannya.

Sosok Mahbub sebenarnya tidak jauh berbeda dengan tokoh Minke dalam buku Jejak Langkah karya Pramoediya Ananta Toer. Oleh temannya yang seorang wartawan De Locomotief Semarang, Minke diajak bertemu dengan Dewa Radikal Kaum Liberal, Ir. H. van Kollewijn. Yang membuat Pram begitu terkenal bukan karena ia terlahir atas dasar suku, bobot dan bebet keluarganya, melainkan karena tulisan cerpen-cerpennya yang memukau. Seperti Pram, Mahbub juga pernah diundang ke Istana Bogor oleh sebab Soekarno terkesan pada tulisannya yang mengatakan bahwa Pancasila lebih agung dari Declaration of Independence.

Sekali lagi, membicarakan sosok Mahbub Djunaidi tidak akan pernah ada habisnya. Seperti tengah membedah sosok perempuan yang dikuliti dari ujung rambut hingga ujung kaki. Mahbub Djunaidi, keharuman namanya seperti bau kesturi yang merasuk dalam setiap not pada tangga nada Mars PMII. Selebihnya, kini harus dipercaya, bahwa memiliki karya adalah cara lain untuk mencatatkan diri dalam sejarah.

Kalau Kamu Bukan Keturunan Orang Kaya (Kongklomerat) atau Trah Ulama’ (Darah Biru) Maka Jadilah Penulis (Imam Abu Hamid bin Muhammad bin Ahmad bin Muhammad at-Thusi al-Ghazali)

*Latif Fianto, lahir di Sumenep, pecinta buku, menulis cerpen dan esai, sekarang tinggal di Malang (dikutip dari pmiikotamalang.or.id)

Penampilan Kelompok Musik Gambus PMII Kutai Timur