PMII Kembali Sholat

Merenungi Keadaan dan Kembali ke Tujuan Organisasi

Pentingnya Pendidikan Politik Sejak Dini

Contoh Kegiatan Politik Yang Tidak Mendidik

PMII Kutai Timur Gelar Konfercab

Konfercab PMII Cabang Kutai Timur

Sosok Kartini Masa Kini Telah Pergi

Sosok Inspirasi Pemudi Masa Kini

Noda Hitam Pesta Demokrasi

Pesta Lima Tahunan Yang Harus Dikawal Bersama

PMII Kutim Sambut Tahun Baru dengan Cara Unik


PMII News. Di penghujung tahun 2014, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Kutai Timur mengadakan maulid habsyi dan diskusi pada Rabu (31/12). Kegiatan yang bertempat di Sekretariat PMII, Jl Diponegoro Gang Dono Mulyo ini dihadiri oleh pengurus Rayon, Komisariat, Cabang PMII dan anggota serta Majelis Pembina Cabang (MABINCAB) PMII Kutai Timur.

Rangkaian kegiatan diawali dengan pembacaan maulid habsyi, sambutan Ketua Umum, diskusi, kemudian doa sebagai penutup. Dalam sambutannya, Nashirudin, Ketua Umum PMII mengatakan kegiatan tersebut dimaksudkan untuk merefleksi perjalanan PMII selama satu tahun, sekaligus menyambut datangnya tahun baru Masehi 2015. “Kalu biasanya orang-orang menyambut atau merayakan Tahun Baru Masehi dengan hiburan, atau senang-senang, tapi kita (PMII=red) menyambutnya dengan kegiatan yang positif, seperti habsyi dan diskusi yang kita lakukan saat ini, ujar Nasir panggilan akarabnya sebelum menutup sambutan.

Acara kemudian dilanjutkan dengan diskusi refleksi akhir tahun yang diisi oleh Mustatho’. Mengawali diskusinya, Mustatho’ terlebih dahulu meminta kepada anggota dan kader PMII yang hadir untuk membaca Alhmadulillah tiga kali. Menurutnya, bacaan tersebut dimaksudkan sebagai ucapan rasa syukur atas segala kenikmatan yang diberikan oleh Allah SWT. Tambahnya lagi di tengah-tengah diskusi, Mustatho’ juga meminta untuk merefleksi kehidupan dimulai dari diri sendiri, kemudian merefleksi PMII secara khusus selama satu tahun berjalan. “ Sahabat-sahabat sekalian, patut kita syukuri, bahwa berkat karunia Allah kita menyambut Tahun baru dengan kegiatan semacam ini, sementara di luar sana banyak yang merayakan dengan hura-hura, tapi di PMII Cabang Kutai Timur merayakan dengan amal shaleh. Dan perlu kita ingat juga seperti tersirat dalam surah Al-Hasr ayat 18-19, bahwa dalam merefleksi, selaian mengefaluasi apa yang telah dilakukan, kita juga perlu untuk melihat progam-progam kerja yang telah direncanakan untuk dievaluasi kembali agar terlaksana dengan baik ke depan”, ujarnya di penghujung diskusi.

Selesai diskusi, kemudian dilanjutkan pembacaan doa oleh Imam Hanafi. “Marilah kita memanjatkan doa sesuai dengan agenda kita yakni refleksi akhir tahun dan menyambut datangnya Tahun baru Masehi, untuk itu sahabat-sahabat sekalian kita bersama-sama membaca doa akhir tahun dan menyambut tahun baru secara bersama-sama”, pinta Imam mengawali doanya.


Seminar Pembuka PKL PMII Kaltim Dipadati Peserta



Samarinda. Seminar dan Pembukaan Pelatihan Kader Lanjutan yang diadakan oleh Pengurus Koordinator Cabang (PKC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kaltim berlangsung cukup meriah dan dipadati peserta, pasalnya undangan yang datang melebihi dari target. Kegiatan yang berlangsung di Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) Samarinda Seberang pada (29/12), dihadiri sekira 240 tamu undangan yang terdiri dari tokoh masyarakat, organisasi kemasayarakatan maupun organisasi kemahasiswaan, mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di samarinda dan luar kaltim, serta siswa SMA, SMK atau sederajat di Samarinda.

Aacara yang berlangsung pukul 08.00 wita, dawali dengan hiburan tari jepen, sambutan Ketua PKC, Ketua Nahdlatul Ulama Kaltim sekaligus membuka acara kemudian dilanjutkan seminar tentang kepeimpinan dan manajerial anggaran. Dalam sambutannya, Enip Himawan selaku Ketua PKC PMII Kaltim mengatakan kegiatan Pelatihan Kader Lanjutan dan Seminar dilakukan atas dasar tanggungjawab organisasi untuk mencetak kader-kader PMII yang tangguh dan berkualitas. “saya berharap seminar ini mampu memberikan gambaran kepemimpinan yang ideal dan masyarakat tahu tentang gambaran tentang pengelolaan keuangan yang berputar di bangsa ini, agar nantinya masyarakat juga ikut berpartisipasi dan mengontrol pengelolaan keuangan daerah maupun pusat, selain itu, saya berharap peserta PKL nantinya mampu mengembangkan pengetahuan, gagasan, dan ide serta mengaplikasikan hasil dari PKL ini di daerahnya masingmasing”, tegasnya.

Senada dengan Ketua PKC Kaltim, Wakil Ketua NU Kaltim dalam sambutannnya sebelum membuka acara mengapresiasi jenjang pengkaderan formal yang berkelanjutan ditubuh PMII. “Hendaknya kegiatan semacam ini dilakukan secara berkelanjutan guna meningkatkan kualitas kader dan menciptakan pemimpin yang tangguh di masa mendatang, hal inilah menjadi tonggak dasar berkembangnya suatu organisasi dan pengembangan karakter individu anggotanya itu sendiri, ujar laki-laki yang juga menjabat sebagai Wakil Ikatan Alumni PMII(IKA PMII) Kaltim.

Setelah dibuka, acara dilanjutkan dengan seminar. Seminar dibagi menjadi dua sesi, yakni sesi pertama tentang kepemimpinan, dan sesi kedua tentang manajerial anggaran. Seminar kepemimpinan diisi oleh dua narasumber yaitu Khoerudin (Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia/KNPI Kaltim) dan Safarudin (Ketua Gerakan Pemuda Ansor Kaltim), sementara manajerial anggaran diisi oleh Nazamudin (seorang akuntan keuangan publik independen).

Selesai seminar, sesuai agaenda yang dijadwalkan dari tanggal 28 November-03 Desember 2014, peserta PKL dari berbagai Kabupaten Kota se-Indonesia Timur kemudian mengikuti materi-materi PKL yang terdiri dari beberapa materi yang tercakup dalam tiga bagian materi, yakni Ke-PMII-an, Ke-Indonesiaan-an, dan Ke-Islam-an.**mchtr

PMII KUTIM Gelar Pelatihan Kader Dasar Perdana Se-Kalimantan Timur


Media Pergerakan, Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Kutai Timur adakan kegiatan Pelatihan Kader Dasar (PKD) pertama kali Se-Kalimantan Timur di Gedung DPD KNPI Kab. Kutai Timur. Acara PKD ini adalah yang pertama kalinya di Kutai Timur yang mana sebelumnya kader-kader PMII Kutai Timur mengikuti PKD di luar Kutim.

Acara yang bertemakan “Membumikan Islam Tradisi sebagai Elan Vital Persatuan Bangsa Indonesia’ itu mendapat respon positif dari berbagai tamu undangan, puluhan peserta dari berbagai cabang se-Kalimantan Timur diataranya ada dari Cabang Kutai Timur, Kutai Kartanegara dan Samarinda para peserta mengaku senang karena sebelumnya mereka belum pernah mengikuti kegiatan sampai PKD. Hadir pula dalam pembukaan tersebut dari Mabincab PMII Kutim, PKC Kalimantan Timur, DPD KNPI Kab. Kutai Timur dan perwakilan Cabang Se-Kalimantan Timur.

Kegiatan berlangsung kurang lebih 6 hari mulai tanggal 23 -28 Desember 2014 cukup meriah dengan pemateri-pemateri yang sesuai dengan bidangnya. Ketua Panitia Sidiq Sutrimo dalam sambutanya mengatakan adalah PKD proses pematangan diri dan pendewasaan cara berfikir kader PMII “Pelatihan Kader Dasar memrupakan proses pendewasaan cara berfikir kader untuk bisa meggali persoalan yang ada’.

Ketua PC PMII Kutai Timur Nashirudin dalam sambutannya berharap agar para peserta nantinya setelah mengikuti PKD mampu menjadi kader yang militan dan mampu mengamalkan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari “PKD sebagai jenjang kaderisasi ke-dua setelah Mapaba maka dari itu para peserta harus mampu mendalami materi yang ada dalam kegiatan tersebut dan setelahnnya mampu mengaplikasikanya dalam kehidupan sehari-hari terutama untuk dirinya sendiri dan mampu menjadi kader yang militan”, ujarnya.

Dengan penuh khidmat puluhan peserta Pelatihan Kader Dasar (PKD) Se-Kalimantan Timur dikukuhkan menjadi Kader pada pukul 04.00 wita. NN



Pelantikan Pengurus Cabang PMII Kutai Timur


Sangatta 02/12/2014, Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Kutai Timur yang ke IV masa khidmat 2014-2015 itu dilantik oleh Ketua I PB PMII Bidang Kaderisasi sahabat Munandar N pada malam hari sekitar pukul 19.30-23.00 Wita di Aula Kampus STAI Sangatta Kutai Timur.
“Perjuangan yang luar biasa dan semangat persatuan Formatur PC PMII IV itu ahirnya membuahkan hasil. Kami selaku panitia sangat mengapresiasikan kerja keras dan usaha mereka. Dan sekali lagi mohon maaf karena pemberitahuan kami kurang terkesan singkat” sambutan Nur Muhabibudin selaku Ketua Panitia Pelantikan.

Parade sambutan agak panjang pada kesempatan kali ini tidak hanya disambut oleh PB PMII, tapi juga ada sambutan dari Mabincab, dan pemerintah dalam hal ini disampaikan oleh Dinas Pendidikan dan kemudian kegiatan ini dibuka oleh PKC PMII Kaltim dilanjutkan prosesi pelantikan dengan membacakan susunan PC PMII Kutai Timur masa khidmat 2014-2015

Meskipun sempat “molor” namun kegiatan itu berjalan dengan lancar. Dihadiri pula oleh PB PMII, PB Kopri, PKC Kaltim, PC PMII Balikpapan, Unsur Mabincab, SKPD Kutai Timur, NU, Anshor, GMNI, HMI, LMND, PENA, Sapma PP, Mahasiswa STAIS, STIE, STIPER dan Siswa Siswi SMA Se-Kutai Timur. Selain itu tak kalah pentingnya support dari sahabat-sahabati Komisariat dan Rayon yang luar biasa hingga acara ini berjalan lancar.

”Dengan semangat baru, mari kita tingkatkan kualitas gerakan sahabat-sahabati dalam mengawal PMII Kutai Timur dengan melaksanakan jenjang kaderisasi paling awal yaitu kaderisasi ditingkat jurusan. Pererat barisan, satukan tujuan dan mari kita merangkul saudara-saudara kita demi menuju Kutai Timur Dinamis. PMII siap bekerjasama dengan siapapun dalam hal kebaikan bersama memperjuangkan keutuhan NKRI ” papar Ketua Umum PC PMII IV Sahabat Nashirudin saat menyampaikan sambutan.

Usai melantik, ketua I PB PMII, Munandar N dalam sambutanya menegaskan kader PMII harus mampu merubah prilaku dan tingkah ketika sudah masuk dalam keanggotaan PMII dan harus giat dalam pembelajaran keilmuan yang ada di PMII.

“PMII harus beda ketika sebelum masuk menjadi anggota PMII dan setelah masuk menjadi anggota PMII dan mempu menjalankan nilai-nilai dan juga mampu mengisi aktifitas-aktifitas keilmuan yang ada di PMII” Tuturnya.

PMII Kembali Sholat


Malam itu di sebuah ruang kelas yang tidak bagus lagi namun masih sangat layak untuk menjadi ruang belajar, ada sebuah diskusi dengan tema yang sederhana (baca:biasa didengar) tapi menggelitik perasaanku dan mungkin juga bagi sebagian besar para mahasiswa yang mengaku kader atau anggota Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

Diskusi itu bermula dari pemaparan seorang mentor, atau sebut saja pemateri tentang ideologi PMII, namanya Asmunandar, dia merupakan Ketua 1 Bidang Kaderisasi Pengurus Besar PMII. “Sahabat-sahabat sekalian, apakah anda tahu apa itu ideologi?, tanya Nandar panggilan akrabnya, mengawali diskusi tersebut sambil menunjuk layar monitor yang menampilkan materi diskusi. Dan apakah ideologi PMII itu?”, tambahnya. Mendengar pertanyaan tersebut, para peserta pelatihan kelihatan bingung dan bengong. “Pancasila”, sahut seorang peserta dari ujung ruang kelas. “Ideologi PMII adalah aswaja”, jawab seorang lagi dari arah yang berlawanan dengan nada lantang. Ada jawaban yang lain?”, kata Munandar menimpali.

“Baik sahabat-sahabat sekalian, jangankan berbicara harapan ke depan tentang PMII, berbicara ideologinya saja sahabat-sahabat belum tuntas, jawaban antara satu dengan yang lainnya masih berbeda-beda, ada yang menjawab Pancasila, Aswaja, NDP dll, padahal itu sangat mendasar, bagaimana dengan praktiknya nanti di masyarakat?, ujarnya sambil mengayunkan kakinya melewati lorong celah-celah kursi duduk peserta. “Sahabat-sahabat sekalian, kita semua sebagai warga Pergerakan harus merefleksi kembali tentang tujuan kita ber-PMII, maka kita juga akan tahu apa ideologinya, jangan sampai kita ber-PMII tapi tidak tahu dengan tujuan sebenarnya. Apa tujuan PMII?, coba sahabat jelaskan!”, tambahnya.

“Belum lagi hilang kebingungan dengan pertanyaan tadi, ditambah lagi dengan pertanyaan sederhana namun sangat mendasar, apa mereka ga tambah bingung”, batinku sembari melihat peserta yang saling menoleh/memandang satu sama lain, mungkin menandakan kebingungannya. “Tujuan PMII adalah terciptanya pribadi muslim yang bertakwa kepada Allah, berbudi luhur, berilmu cakap, bertanggungjawab mengamalkan ilmunya dan komitmen dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia”, jawab seorang peserta yang persis berada di depanku dengan sedikit gagap, mungkin karena tidak yakin dengan jawabannya.

“Ya!!!, kurang lebih begitu tujuan PMII yang tertuang dalam AD/ART, namun apakah kita semua warga Pergerakan sudah merenungi tujuan mulia tersebut hingga langkah dan tindakan kita sesuai dengan tujuan PMII?, jawabannya belum, ujuar Munandar. “Kita semua terlena dibalik dinamika organisasi yang mewarnai perjalanan PMII, padahal dalam tujuan PMII jelas untuk menjadi pribadi yang bertakwa kepada Allah swt, namun kita lihat faktanya, masih banyak kader-kader yang jarang sholat, bahkan tidak pernah sholat, kita juga tahu dalam tujuan PMII menjadi pribadi yang berilmu cakap, namun kita lihat faktanya, masih banyak kader-kader PMII yang nilai akademiknya di bawah standar, kuliah ogah-ogahan, dan banyak hal lain yang sangat bertentangan dengan tujuan organisasi. Itulah realita yang harus kita renungi bersama, dan satu-satunya jalan untuk memperbaiki ini semua, PMII harus kembali sholat”, tambahnya sambil menyika air mata.

“Betul juga ya mas, saya baru nyadar bahwa aktifitas para kader dan anggota PMII baik secara individu maupun kolektif ternyata masih jauh dari tujuan mulia PMII, dengan sholat pula menjadi kunci pembuka segala aktifitas lainnya, karena ada dalil yang mengatakan amal yang pertama kali dihisab adalah sholat, apabila sholatnya baik maka amalnya baik pula dan sebaliknya, gitu kan mas?’, tanya seorang peserta yang duduk di sebelah kananku. namanya Zahrah. “Iya betul Sahabati, dan itulah realita yang harus kita rubah mulai dari diri sendiri”, jawabku singkat.

Coba saja semua anggota maupun kader sadar dan merefleksi tujuan PMII, mungkin apa yang dicita-citakan bangsa Indonesia dan para kader secara individu maupun organisasi akan tercapai, kebesaran PMII tidak hanya berada di bibir, namun tertuang dalam karya nyata yang mulia. Revitalisasi Gerakan oleh Pengurus Besar perlu didorong agar tercapai dan merubah pola, tingkah laku kader menjadi lebih baik lagi menuju tujuan organisasi sebenarnya. “Mas…mas…mas..,ko ngelamun?”, terdengar suara lirih membangunkanku dari lamunan. “PMII harus kembali sholat, itu merupakan pesan sederhana namun sangat dalam maknanya ya Mas”, ujar Zahrah mengiyakan pernyataan Munandar.

“Oke sahabat-sahabat sekalian, mulai ke depan PMII harus berani mengambil resiko demi merubah citra dan karakter kadernya, seandainya ada anggota maupun kader PMII yang tidak sholat, nilai akademiknya rendah, maka pengurus wajib memberikan teguran, bahkan kalau perlu memberikan batas waktu maksimal enam bulan untuk memperbaiki diri, seandainya tidak berubah, maka anggota atau kader tersebut baiknya dikeluarkan saja dari PMII. Mending kita kehilangan satu atau dua kader untuk kebaikan bersama daripada memelihara kader yang akan merusak organisasi”, ujar Munandar di penghujung diskusi.